Selasa, 30 Juli 2019

23

23 tahun pada 23 Juli. 23 tahun! gaes 23! wow! Udah tua aja ya. Bagiku 23 udah masuk kategori atau level yang berbeda dari 22 kebawah. By the way, 22 is not as cool as Taylor Swift's song. Umur 22 justru rasanya kayak banyak cobaan, banyak up and down. Sekalinya down, yang down banget. Ada benernya banget sih Lagu 22 nya Taylor terutama dibagian "CONFUSED & LONELY at the same time". Ugh Lonely nya apa lagi, kerasa banget. Belakangan aku menemukan bahwa aku tipe kepribadian INFJ, yg memang wajar kalau sering merasa sendiri dan sepi. Aku pengen cerita tentang INFJ ini, entah lain waktu maybe.

Tapi 22 sudah berlalu. Gak tau deh "keseruan" apa yang akan terjadi di 23. Aku (harus) sangat Semangat! :p  . Aku pernah menghayal di umur 23 pada 23 Juli, aku akan berhenti menua. Secara hitungan memang usia bertambah, tapi secara fisik pertumbuhanku tetap di umur 23. Sejenis film The Age of Adelaine wkwkwk. Jadi walaupun sebenarnya tua aku akan tetap awet muda, tetap dengan muka seperti sekarang (walaupun mukaku terhitung muka tua sih), rambut tetap hitam, kulit kencang, badan sehat dan kuat. You wish!

Aku gak tau aku harus apa di usia 23. Aku gak membuat plan atau target apa-apa. Sudah lama aku tidak lagi membuat target tiap tahun baru, target tiap masuk usia baru, target per semester, target per 6 bulan, per tahun per 5 tahun. I dont know why. Padahal aku tau itu penting, tapi aku serasa hilang selera. Aku takut target yang kubuat tidak tercapai. Padahal tidak membuat target sama sekali juga artinya tidak semakin berusaha. Aku seperti tidak sesemangat dulu. Aku juga gak tau kenapa bisa seperti ini. Early quarter life crisis? Mungkin.

But at least, I hope in my 23 years old, aku bisa lebih mencintai diriku sendiri. Ya beginilah aku. Bukan aku yang aneh, tapi ini sudah kepribadian yang mungkin sudah dari sononya ditakdirkan begini. Aku tidak harus seperti orang-orang. Tidak perlu tau gosip artis/selebgram/bahkan gosip di perkKoas-an demi bisa nge-blend dengan orang lain. Tidak perlu suka politik kalo memang tidak suka. Tidak harus tau semua hal supaya bisa ngobrol dengan berbagai kalangan. Kalo memang aku nyaman dengan apa yang sekarang dan merasa itu sudah cukup, tidak melanggar kebenaran, yaudah. Penemuanku tentang INFJ, sedikit membuatku lega dan tidak lebih keras ke diriku sendiri. Aku ingin lebih PERCAYA degan diriku sendiri. Ketika orang takut atau ragu aku sering sekali bilang ke mereka " Kamu bisa kok. Aku aja percaya sama kamu, masa kamu gak percaya sama diri kamu sendiri", tapi aku pun sering sekali merendahkan diriku sendiri. 

Aku baru aja baca suatu hal yang bilang, mungkin memang kita tidak lagi idealis tapi realistis, menerima apa yang ada dan berusaha mensyukurinya. Di kehidupan Koas, dimana harapan tinggiku dihempaskan berkali-kali, rasanya aku memang tidak bisa berbuat apa selain berusaha menerima, bersyukur. Baru sadar kan menerima alias qanaah itu gak gampang. Sering banget juga lupa bersyukur. Again, walaupun begitu aku harus tetap berusaha dengan caraku sendiri, semampuku, jika memang lingkungan ini tidak bisa memberi apa yang aku harapkan.

Dan terakhir, aku ingin sehat. Sehat secara fisik dan mental.

Semoga aku selalu ingat ini. Semoga suatu saat ketika aku baca lagi tulisan ini, aku bisa tersenyum karena keadaan yang sudah jauh membaik

Sabtu, 01 Juni 2019

1 tahun Koas!

Pas Mei tahun lalu aku resmi jadi Koas, bagian persekolahan kedokteran yang katanya Wow banget dalam banyak segi. Setelah 1 tahun, "katanya" itu benar sekali. Satu tahun yang lalu masuk koas awal-awal Ramadhan, sekarang pun Ramadhan. Dulu pas itu dapatnya Blok Besar Interna, sekarang juga dapat Blok Besar Obsgyn. Waktu itu pas puasa-puasa LK (Luar Kota), sekarang di Obsgyn juga begitu, walaupun lebih ringan di Obsgyn sih.

Banyak sekali pengalaman, cerita, ilmu (sedikit sih kalo ini), kejadian-kejadian yang memorable selama Koas. Masa-masa koas ini adalah masa memperjuangkan mimpi tapi terhalang realita sekaligus masa-masa menjadi dewasa yang masalah-masalahnya hemmmz banget, pake z lho bangetz. Jadi gitu deh drama.

Ada banyak hal juga yang berubah dari diriku sendiri dan orang-orang. Dulu misal si X orangnya biasa aja eeeh masuk koas jadi terkenal pato. Dulu si Y jarang banget masuk kuliah setelah jadi koas eeh jadi rajin dan teladan. Tapi ada juga yang awalnya Invisible eeeh setelah jadi koas tetap invisible contohnya aku. Eits maksudnya bukan invisible karena ilang-ilangan hlooh ya.

Dulu waktu awal saat interaksi dengan Koas Senior (selanjutnya disebut Sen) yang udah duluan koas, pas mereka ngeluh ini itu ketika disuruh, gak mau disuruh KUVS, aku langsung mikir "wah ini pasti Koas Pato". Aku dulu bersedia disuruh apa aja karena memang aku disini belajar, karena aku anak baru, karena merasa bersyukur aku bisa sekolah dan dapat kesempatan ini yang gak mungkin di dapatkan orang lain. Masa disuruh gitu aja gak mau, pikirku. Sayangnya, aku pun mulai seperti itu sekarang. Aku ngeluh disuruh ini itu (dulu sebenarnya ngeluh juga sih, tapi gak kayak sekarang), aku malas banget KUVS walaupun tetap aku lakuin, aku mempertanyakan (dalam hati) alasan disuruh ini, kenapa sih harus KUVS per berapa jam, DJJ per berapa jam, kenapa pasien yang seperti ini juga harus diitung BC dan lain-lain. Aku seperti merasa harga diriku terlalu tinggi dibanding sebelumnya. Kalo perawat atau bidan yang suruh, bawaannya itu "kok nyuruh-nyuruh kita sih, residennya aja gak". 

Aku sedih sih dan sering sekali dalam solatku (atau kesendirianku :p) aku mempertanyakan "apakah harga diriku sudah tinggi sekarang? apakah aku sama saja dengan orang-orang yang dulu aku anggap pato? apa sekarang aku sudah malas? apa aku jadi koas yang kurang bersyukur padahal dulu bersedia disuruh apa aja sebagai bentuk syukur bisa sekolah kedokteran?". Aku gak tau aku begini apa karena sudah bosan, apa karena merasa disuruh-suruh aja tapi tidak diberikan ilmu dan alasan kenapa kita disuruh x, y, z. Atau karena pengaruh teman-teman yang memang kuat banget. Jujur saja banyak teman yang seperti itu dan males disuruh Bu Bidan/Perawat karena merasa diri lebih tinggi. Atau aku memang sudah males aja? 

Kebelakang aku memang merasa semakin malas. Belajar males atau seadanya. Stase gelinding aja, gak ngerti-ngerti banget yang penting lulus. Aku dulu mikir "ah gak ah, sampai terakhirpun aku akan/harus tetap curious dan semangat", tapi rasanya susaaah banget. 

Hal itu mungkin juga karena hal kedua yang sering aku pikirkan dalam kesendirianku (lagi), "kok kayak bukan sekolah kedokteran ya". Iya emang, sekolahnya emang kedokteran, kerjanya di rumah sakit, tapi kok kerjanya disuruh-suruh mulu, pintarnya gak. Ekspektasiku ke Koas itu tinggi sekali, eh pas masuk rasanya dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Aku pikir ilmu preklinik bisa diterapkan prakteknya disini. Bener sih, tapi gak maksimal. Entah sistemnya apa gimana. Ya kita juga terbatas, karena koas kerjanya KUVS doang atau hal-hal yang seharusnya kita bisa semua dipegang Residen dan residen sendiri berebutan untuk bisa skill ttt apalagi koas. Residen juga sering minta kita ngelakuin ini itu tanpa perlu menjelaskan kenapa harus begitu/begini. Residen gak merasa perlu menjelaskan "pasien yang datang tadi itu gini lho. nah ciri-cirinya tadi kan ini itu. jadi dikasih ini itu". Kadang kita hanya menemani duduk di ruangan/igd/manapun, bantu nulis, bantu melengkapi berkas, bantu ngetik, sudah. Gak semua Residen sih. Yang mau ngejelasin juga banyak. Dan kadang hal ini pun berlaku di Staff juga.

Koas juga dituntut untuk tau ini itu tapi tidak diarahkan kesana dan kesini supaya bisa ini itu tadi. Kadang Kehidupan di koas juga kita dinilai dari akhirnya saja, saat ujian, saat berhadapan dan sejenisnya. Tidak melihat proses kita sehari-hari. Tidak melihat mana yang datang selalu telat, yang kadang masuk kadang gak, yang biasa nujum atau lainnya. Ya emang susah sih menilai proses diantara koas dan res yang begitu banyak. Bahkan kadang kita dinilai dari penampilan!

Itu yang bikin ekspektasiku jatuh. Di saat serius pengen tau banyak, tapi kayak diredam seakan-akan "ah yang penting kamu tau yang standar2 aja", "ah yang penting lulus", "ah yang penting tugas-tugas beres". Aku pun jadi berpikir "ah gak usah serius-serius toh nanti yang keluar standar aja", "ah gak usah dalem-dalem toh nanti ujiannya IR", "ah gelinding wae toh nanti yang keren yang hasilnya lebih bagus". Padahal kan bukan nilai target akhir, tapi lebih jauh dari sekedar itu. 

Dalem banget ya? hahaha

Hal ketiga yang sering aku pikirkan adalah Drama banget ya Koas itu. Kalau kata temanku bilang, "Kita sering lupa film-film dan sinetron itu lah yang sebenarnya menyontoh kehidupan nyata". Dramanya koas macam-macam bentuk. Mulai diantara koas itu sendiri, koas dengan residen, koas dengan perawat, koas dengan staff, koas dengan presiden (?), dan lain-lain. Aku sih sebagai koas cari aman, cuma beberapa kali bermasalah sama residen yang cukup serius sukurnya gak kenapa-napa. kalo  sama perawat gak pernah. Sesama koas? heemmz banyak tapi ada yang diungkapkan, banyakan yang aku julid sendiri dalam hati terus aku jadi "oh jadi dia orangnya gini, okay liat aja" terus aku panggil ibu peri untuk mengerjai mereka. Tapi sayangnya itu hanya hayalan. Dipukilin? mungkin cukup sering (karena aku juga orangnya itu independen gitu jadi kalo bisa sendiri males ngemis2 ke orang untuk inisiatif). Dihianati? pernah. Diomongin/digunjingin dibelakang? kayaknya sering (tapi aku cuek). Ditinggalkan? pernah. Dibohongi? pernah. 

Karena sudah memasuki dewasa pun, drama-drama di kehidupan koas juga bisa menyentuh ke arah-arah dewasaaaa yang bagi aku yang polos ini sgt bikin shock. Aku hampir bisa saja mengalaminya. Sukur saja aku masih diberi keberuntungan. Aku jadi merasa, kehidupan dewasa bisa sekejam itu. Ckckck

huuufth

Akhir kata, semoga diri ini masih diberi semangat, keikhlasan, diberi rasa syukur dan hanya berpatokan untuk mencari Ridho-Nya. Semoga ilmu-ilmu yang kecil-kecil itu bisa terbayar nantinya dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi. Semoga diri ini masih terus dilindungi, dikuatkan agar bertahan di jalan yang benar, dan diberi keberuntungan.

Semoga 1 tahun sisa Koas, bisa dimanfaatkan dengan baik dan jadi masa yang keren kayak yang nulis. 

Aamiinn. 

Jumat, 28 Desember 2018

Cerita Koas : Behind the Story

It's not easy. At all.

Ini bukan saja tentang Koas tapi lingkungan disekitarnya, tumbuh dewasa bersamanya.

Di awal masuk Koas saja aku sudah berpikir "Aku rasa aku gak akan menganjurkan anakku jadi Dokter". Because it's not easy.

Aku ibarat gelas kaca yang bagus dan dijaga-jaga tapi gampang pecah sewaktu-waktu.
Baru tergores saja susah untuk diperbaiki.

Dengan anankastikku, aku semakin berkurang dan berkurang dalam hal mempercayai orang lain. Aku gak parcaya orang lain. Even my family.

Rasanya semakin merasa sendiri dan sendiri. No body really cares.

Situasi, keadaaan dan orang-orang sekitarmu somehow (walaupun tak langsung) menunjukkan kalo kamu gak worth it, kamu jelek, kamu bodoh, kamu useless, kamu kampungan, kamu annoying, kamu gak terkenal, kamu bukan anak siapa-siapa, kamu gak kaya daaaan lainnya. Begitulah standar-standar manusia pada umumnya. Dan sayangnya kamu minoritas.

Sangat gak enak rasanya jalan bersama orang yang gak sejalan dengan kamu.

Bete banget rasanya ketika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tidak dihargai.

Jengkel rasanya kamu gampang sekali dilupakan.

Rasanya kegelapan perlahan merasuk merenggut kebahagiaanku.

ini dan itu

semuanya kecil awalnya. tapi bertambah bertambah bertambah dan numpuk, sesak. Sampai akhirnya meledak dan pecah. Tumpah isi gelas kaca tadi.

It's just not easy kawan. at all.

Rabu, 07 November 2018

Era Hoax, Era Ham, Era Julid

Aku yang anak kelahiran 90an aja ngerasa banget perbedaan hidup jaman dulu dan sekarang. Cepat sekali masa berubah. Teknologi makin canggih, budaya dan kebiasaan juga berubah.

Aku yg orangnya old fashioned agak risih ya dengan perubahan sekarang. Banyak banget yang berubah dari hal yang kita gak notice karena dianggap sepele karena udah umum sampe yang hal-hal yang vital.

HP dengan segala kecanggihannya banyak sudah merubah orang-orang. Keluarga yang dulunya dekat dan waktu dihabiskan bersama, sekarang masing-masing sibuk nonton hp nya. Dulu, 1 tv di ruang tengah walaupun gak terlalu suka acaranya ya ikut aja nonton karena demi kumpul bareng, sekarang karena ada kesenangan lain (baca : HP) mana ada yang tersisa di ruang tengah untuk nonton TV.

Dulu kalo makan bareng teman-teman ya pasti saling ngobrol sambil nunggu pesanan datang. Sekarang, semua main hp masing2. Sampe pernah jengkel banget gara-gara ada seorang teman yang aku ajak ngobrol pas makan bareng, eh dia gak dengar dan gak ngeh aku ajak ngobrol saking serius dengan hpnya. Kadang, kalo makan bareng rame-rame gitu, aku sendiri yang gak pegang hp, aku liatin semua temanku pegang hp masing-masing, aku bete, aku akhirnya ikutan pegang hp walaupun gak ada yang dibuka-buka juga.

Dulu waktu awal-awal punya aplikasi chat line, bete banget kalo orang yang aku chat gak balas chat alasan karena sibuk atau tenggelam atau mungkin aja karena dianggap gak terlalu penting. Sejak ada aplikasi chat gini rasanya semua orang bisa hubungi kita termasuk yang gak penting (baca: chat grup yang rame bgt) akhirnya sampe yang bisa jadi penting malah tenggelam. Tapi lama-lama karena kebiasaan digituin kali ya, aku jg mulai mengabaikan chat orang yang aku anggap gak penting, balasnya nanti-nanti, balas yang lain dulu, bukan membalas berdasarkan siapa yang ngechat dulu. Jadi dianggap biasa kan? padahal dulu itu gak biasa.

Dulu juga kalo ngechat di grup gak dibalas aku marah dan merasa orang-orang gak sopan apalagi kalo langsung ada yg ngechat dengan topik lain tanpa membalas punyaku dulu. Lama-lama aku terbiasa digituin dan jadi gituin orang lain. Dianggap biasa jg kan? padahal dulu aku anggap itu gak sopan.

Tanpa sadar adat atau kebiasaan baik yang kita punya itu mulai terkikis. Pelan-pelan sekali. Seringnya kita gak sadar.

itu hal sepele sih. Belum lagi hal lainnya.

Rasanya orang-orang sekarang juga makin individual. Sedikit-sedikit "itu urusan pribadi mereka", "itu hak mereka". Padahal dulu gak gitu banget deh. Misalnya kalo ada laki sama cewek belum nikah masuk kamar sampe nginap, ya didiamin aja juga. Urusan mereka.
Ada tetangga yang suka aniaya anaknya, kita juga diam aja. Urusan mereka.
Duh banyak deh contohnya.

Bukankah dulu jaman sekolah di Mapel Sosiologi selalu disebut-sebut suatu bentuk hukuman yang dari masyarakat sendiri berupa  pengucilan sejenisnya. Dulu orang-orang yang melanggar norma ya akan digunjinggkan atau dikucilkan. Iya emang sih menggunjing gak baik, dikucilkan juga tega amat. Tapi jika sudah dinasihati dan masih saja melanggar, pengucilan itu penting. Supaya jera. Supaya orang lain gak niru sikap yang salah tersebut. Kalo apa-apa serba "biarin", "urusan mereka" ya nanti semua orang juga bakal menyimpang karena gak merasa salah dan gak merasa dapat hukuman apa-apa.

Lagipula, bukannya tugas kita untuk mengingatkan?

Mengingatkan, diarahkan, diluruskan, dikembalikan ke yang seharusnya bukan malah "urusan mereka", "urusan mereka" terus.

Yang ada malah orang-orang seringnya menggunjingkan hal-hal yang jauh dan gak terlalu penting. Yang diurusin malah artis-artis yang cuma dilihat di akun medsos. Yang dijulidin malah misal tentang kejelekan artis karena gak pake makeup, pacarnya si artis yang gak terlalu ganteng/cantik,  julid hanya karena typo.

Apalagi ya sekarang Ya Alloh orang-orang pada gampangnya ngomong "tolol", "goblok", "idiot" atau nyebut-nyebut nama binatang ke orang lain hanya karena komenan polos orang lain. Yang memang gak ngerti dibilang tolol, yang berpendapat juga langsung di sebut 'an****g'. Kenapa gak jelasin baik-baik aja. Kenapa harus senyolot itu. Kenapa jaman sekarang sering sekali orang-orang ngomong sadis begitu dengan gampang dan santainya. Dan lagi, begituan udah dianggap biasa. See, semakin banyak yang dianggap lumrah.

Aku jadi mikir, katanya kalo orang sensitif itu artinya dia kurang jauh mainnya, kurang banyak temannya. Bisa jadi. Aku akui itu benar. Tapi gak selamanya benar juga. Bisa jadi kebanyakan orang sudah menganggap "biasa" tentang hal-hal yang dianggap "sensitif" oleh orang yang yg kurang jauh mainnya itu.

Udah gitu yang nyolot-nyolot itu juga belum tentu bener. Semua mau menangnya sendiri. Semuanya berteori begini begitu padahal belum tentu bener. Sampe aku juga bingung mana yang benar di dunia ini jaman sekarang. Sulit sekali mempercayai media terutama. Media sekarang rasanya terlalu gampang memvonis, tidak melihat dari 2 sisi, tidak mencari fakta tapi mencari popularitas.Sudah gitu hoax dimana-mana. Media berita terkenalpun bisa hoax. Kebenaran rasanya blur sekali saat ini. 

Banyak informasi-informasi yang ditambah-tambahi, dibumbui, dimanipulasi, menggiring publik ke suatu kesimpulan tertentu. I dont know. Jujur aku bingung. Mana lagi jaman sekarang rentan banget Sara. Apa-apa dikaitin agama padahal aslinya gak ada hubungannya dengan agama. agama dibawa-bawa jadi bahan lucuan padahal jatuhnya juga gak lucu. lalu orang-orang jadi berpihak sana sini, berteori begini dan begitu. Padahal komen-komen atau debat-debat masalah agama itu harus hati-hati banget lho. Rentan sekali. Satu debatan atau teori yang kita ungkapkan dan misalnya ternyata itu salah di Mata Alloh, berdosalah kita apalagi postingan/cuitan kita itu dilihat oleh followers kita, diretweet juga oleh mereka, berlipat-lipatlah dosa kita. Alangkah baiknya sebarkan kebaikan saja, hal-hal yang meragukan dan belum pasti kebenarannya kita tinggalkan saja.

Apalagi sekarang banyak banget Muslim yang ikut berbagi/ngelike/retweet hal-hal negatif tentang Islam. Anggaplah misalnya pihak muslim memang salah, ya tapi gak usahlah ikut menggembar-gemborkan pake caption "really?" atau semacamnya. Toh selalu ada 2 sisi dari setiap cerita. Toh seperti yang aku bilang tadi, bisa jadi media yang mengadu domba. Toh kadang kesalahan/kenegatifan itu bukan berkaitan dengan agama, semua orang dengan agama berbeda bisa berada dalam posisi itu. I mean, janganlah kita yang muslim malah menambah-nambah citra jelek agama kita. Jangan sampe orang agama lain melihat bahwa orang muslim sendiri tidak percaya dan tidak suka dengan agamanya sendiri.

Seperti yang diajarkan Nabi, jika riskan sebaiknya diam. Jika mendapat info/berita, harus cek dan recek. Jika ingin mengkritik, lakukanlah perorangan jangan didepan publik.

Wallohualam Bis Showab.
Semoga diri ini dilindungi Alloh dan selalu berada di jalan yang benar.

Jumat, 21 September 2018

Salahkah Aku?

Untuk mereka yang selalu berpikir aku kompet, ambisius, negative thinkking atau sejenisnya

Aku hanya seseorang yang pikirannya jauh. Aku memikirkan apa yg harus ku lakukan besok, minggu depan bahkan tahun-tahun depan

Aku hanya seseorang yang tidak bisa hanya menunggu waktu besok untuk datang tanpa mempersiapkan yang terbaik hari ini untuk esok.

Aku hanya tipe orang yang "sakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Lalu salahkah aku jika aku ingin cepat selesai, supaya bisa santai kemudian?

Aku hanya seseorang yang tidak mau menyesal di akhir. Lalu salahkah aku kalau aku berusaha yang terbaik?

Aku hanya seseorang yang berprinsip "Prepare for the worst". Lalu salahkah aku kalo aku terlalu berencana tentang banyak hal dan mempersiapkan plan A,B,C dan seterusnya? Aku bukan negative thinking, hanya saja tidak segala yang kita inginkan dan rencanakan bakal terjadi. Aku pun punya prinsip "Always Hope for the Best"

Aku hanya seseorang yang memang kepo dan gampang penasaran. Lalu salahkah aku jika aku ingin tau lebih dari sekedar standar atau yang diwajibkan? Beside, rasa penasaranku bukan hanya pada ilmu atau pelajaran tapi hal-hal lainnya.

Aku hanya seseorang yang merasa "kerjakan apa-apa kalo bisa sebaik mungkin". Lalu masih salahkah aku? Aku kecewa jika tidak mendapat akhir yang baik, tapi aku jauh lebih kecewa jika aku mendapat akhir yang baik karena tidak berusaha melakukan yang terbaik.

Aku juga bukan orang yg benar-benar berorientasi pada 'hasil', aku tau betapa pentingnya sebuah 'proses'. 'Hasil' sesungguhnya hanya bonus dari 'proses' tadi.

Jadi maafkan aku jika aku kompet
maafkan aku jika aku ambisius
maafkan aku jika aku negative thinking
dan
maafkan aku karena tidak sesuai dengan ekspektasi dan prinsipmu

Sabtu, 08 September 2018

Cerita Koas : Jiwa-jiwa yang Tenang

Habis dari Interna terus masuk ke Jiwa itu rasanya kayak Hmmm hmmm hmmm nya Nissa Sabyan. Interna yang klinis bgt, penyakit bgt, science banget, eksak banget, dokter banget  ke Jiwa yang isinya main-main perasaan. Eet eet perasaan jangan dimainin kata nenek itu berbahaya heeeey ~~ *nyanyi* . Gak nyambung oke kita ganti paragraf

Jiwa itu justru kayak serba : belum dapat dijelaskan. Ya emang sih neurotransmitter dan lain-lain tapi tetap aja kenapa begitu itu kayak masih menjadi Misteri. Tapi justru itu aku sadar, bahwa gak segala sesuatu  itu bisa dijelaskan, gak segala sesuatu itu ada ilmunya. Sometimes ya emang terjadi aja. Kalo kata Ed Sheeran maybe just a part of a plan. Dengan begitu juga kamu percaya bahwa ada sesuatu dibalik itu semua. Ada hal-hal yang gak bisa dijangkau oleh ilmu manusia. Oke, terlalu dalam. Ganti paragraf.

Tak disangka Staff-staff a.k.a Dokter-dokter spesialis Jiwa pada ramah. Seperti yang sudah aku sebutkan di postingan sebelumnya, mereka selalu mau tau nama kita siapa, darimana, anak keberapa, kerja orangtua apa, asal darimana, khasnya daerah kita apa, artis dari daerah kita siapa, sampe jodoh-jodohin yang sesama daerahnya. Begitu aja, aku merasa dihargai (aku emang wanita sederhana ya).

Mungkin karena di jiwa itu penting banget ya memperhatikan perasaan pasien. Bahwa sakit itu bukan hanya disebabkan ada yang salah dari organnya tapi ada yg salah dari psikologisnya. Attitude penting banget dijiwa. Ahli ngomong juga penting banget disini. Bakat-bakat sering dicurhatin teman dan sering menasihati tentang masalah berkaitan hubungan dengan pacar walaupun sendirinya gak pernah pacaran, cocok banget disini.  Kalo interna senjatanya alat KUVS, disini senjatanya dari mulut kita aja.

Banyak hal-hal yang menurut kita biasa aja atau "ah gitu doang" itu ternyata belum tentu biasa aja buat orang lain. Kepala terbentur  biasa aja udah bisa sampe bikin perubahan perilaku. Putus cinta aja sampe bikin gangguan jiwa bertahun-tahun. Memang cinta itu berbahaya.  Ada yg gak ada pemicu-pemicu apa-apa eh kena aja.  Curious bgt sih tentang berbagai macam gangguan-gangguan yang bahkan bisa aneh banget. Yang paling bikin aku terkesan itu tentang Disocciative Identity Disorder/multiple personality disorder  dan fugue disiosiatif.   Bagaimana mungkin 1 orang bisa punya kepribadian yang jelas sangat berbeda, bisa mempengaruhi kepribadian yang lain tapi tapi aaah susah deh dijelasin. Gara-gara ini aku rela nonton film taun 1957 yang masih itam putih itu yang katanya based on true story. Keren banget sih gila aku gak nyesal nontonnya dan membuat diriku yang bego ini jadi lebih mengerti. Recommended lah judulnya The Three Faces of Eve.  Oiya selama di Jiwa ini aku banyak nonton film-film kejiwaan supaya lebih paham . Ehemz :p

Beruntungnya diriku adalah aku dan teman sekloter haji itu sempat dapat Stase RSJ.  Padahal nih udah 2 bulanan stase RSJ sempat diberhentikan mbuh lah urusan administrasi kebijakan manajemen begitu-begitu. Eh alhamdulillahnya tanpa diduga kita ujug-ujug minggu ke3 disuruh aja ke RSJ. Disitulah petualangan di mulai.

Ada berbagai macam pasien yang berlimpah dibanding poli dan bangsal di RSUD biasa. Cerita mereka berbeda-beda. Let me tell you some of them.

Mbak SI adalah pasien pertamaku yang bener-bener aku full wawancara sendiri. Dia masih 27 tahun. Dia gak merasa sakit. Sangat normal malah kelihatannya. Awalnya aku mikir kasian banget digabung dengan teman-teman lainnya yang kondisinya agak parah. Logat Mbaknya agak lain, ternyata dia sempat kerja di Malaysia jadi logatnya logat sana. Dia kooperatif, nyambung juga diajak bicara, katanya suka baca, buat puisi, nulis.  Disini nih pentingnya menggali lubang tutup lubang, lama-lama mulai ada anehnya. Waham kebesarannya muncul, katanya banyak yang suka sama dia. Lama-lama bilang juga kalo malam sering keluar keliling kampung untuk jagain kampung dari maling. Dan dia kelilingnya sendiri, setiap hari, jadi bukan suatu giliran ronda. Bipolar.

Setelah dikonfirmasi ke keluarga via telepon, ternyata mbaknya juga suka keluyuran, nyapu rumah sampai ke halaman-halaman kampungnya di sapu, marah-marah, suka berpakaian rapi kayak orang kerja padahal gak, berani sama keluarga dan lain-lain. Katanya mulai berubah sejak pulang dari Malaysia itu. Di Malaysia kenapa-kenapa juga gak tau.

Daan so sweetnya adalah di hari ketiga aku masuk kebangsalnya dia (selama 3 hari tetap masuk bangsal tsb untuk wawancara pasien lain tapi aku tetap menyapa Mbak SI), dia tiba-tiba "ini untuk kamu" sambil ngasih kertas kecil gitu. Ternyata itu sejenis puisi yang dibuat. Awwww. Padahal yang wawancara dia bukan cuma aku aja lho, tp yg dikasi aku doang. Thanks Mbak SI, semoga sehat terus ya baik fisik dan jiwa semoga kita bisa ketemu lagi di lain waktu.

Selama berinteraksi dengan pasien-pasien Jiwa, aku belajar 1 hal yang penting banget : KEBUTUHAN UNTUK DI DENGARKAN ITU TINGGI BANGET

Semua pasien-pasien bangsal di RSJ berebuatan pengen di wawancarai. Mereka ingin bercerita. Mereka ingin di dengarkan. Pasien-pasien Gangguan Jiwa bukan cuma butuh dikasih barang berharga, uang bulanan oleh anak-anak mereka, mereka juga ingin ditanyai kabar, ingin diajak bicara, ingin ada seseorang untuk berbagi cerita. Perasaan yang dipendam bisa banget bikin orang merasa sendiri, kemudian emosinya numpuk-numpuk dan bikin gangguan jiwa. Seorang keluarga pasien yang mengantarkan ibunya yang Skizofrenia bilang ke aku : "Ternyata ya Mbak, nyenangin hati orang tua itu bukan cuma memenuhi apa yang dibutuhkan, ngasih ini itu, tapi harus juga jaga hatinya, dengarin curhat-curhatnya, dan menjadi tempat pelariannya kalo ada masalah"

Aku juga terkesima dan tersadara saat seorang Res Jiwa Pin Biru (Kasta tertinggi Per-Residen-an) bilang : "Jangan bilang orang kena gangguan jiwa karena kurang bagus agamanya, kurang tebal imannya, jelek pengendalian emosinya, kurang berpendidikan dan lain-lain. Karena gangguan jiwa itu bisa mengenai siapa saja, orang alim/tidak, orang kaya/miskin, orang pintar/tidak, orang baik-baik/tidak". Ya, dulu aku sempat berfikir demikian seperti orang-orang kebanyakan tapi sekarang aku sadar semua, siapa saja, bisa terkena gangguan jiwa karena memang banyak faktor yang mempengaruhi. Jadi JANGAN JUDGE orang yang kena gangguan jiwa karena dia gak alim atau sebagainya.


Ada 1 hal lagi yang bikin aku terkesima. Seorang Dokter Laki-laki  Sp.KJ bilang di suatu bimbingan, "sebenarnya penyebaran agama lewat Nabi itu awalnya adalah suatu waham". Waham, suatu isi pikir/keyakinan yang tidak logis bagi orang-orang kebanyakan, sesuatu yang 100% dipercayai oleh yang punya waham, bersifat egosentris, sulit untuk dikoreksi oleh orang lain, dan hidup sesuai wahamnya. Misalnya Nabi Muhammad yang melakukan perjalanan Isra' Miraj. Nabi pergi ke langit ke7, naik Buroq (kendaraan tercepat di seluruh jagad), bertemu malaikat, bertemu Nabi-nabi lainnya, bertemu Alloh. Semuanya itu hanya Nabi Muhammad sendiri yang mengalami lalu diceritakan ke orang-orang.  Bagi orang-orang umum tentu itu sangat tidak logis dan mustahil. Kemudian dianggaplah Nabi Muhammad gila/waham tadi. 

Yang aku pikirkan dan salutkan adalah bagaimana mungkin pengikut-pengikut Nabi bisa percaya dengan cerita Nabi yang mustahil itu? cerita Nabi yang hanya Nabi sendiri yang mengalami? Bagaimana mungkin pengikut-pengikut Nabi bisa percaya padahal jelas-jelas Nabi sudah memenuhi 5 kriteria waham tadi? Bagaimana mereka bisa yakin bahwa Muhammad itu memang Nabi?

I mean, berarti Iman sahabat-sahabat Nabi saat itu memang tinggi sekali. Mereka tetap percaya pada Nabi walaupun sebenarnya kejadian Isra' Miraj tadi memang normalnya tidak masuk diakal. Mereka tidak kemudian ragu bahwa jangan-jangan Muhammad itu memang gila. Mereka percaya 100%. Mereka percaya pada Alloh, sesuatu yang gaib, sesuatu yang tak terlihat dengan mata. Mereka korbankan uang, waktu, tenaga, kampung halaman, keluarga demi Alloh, demi Nabi. Modal mereka cuma IMAN, hanya PERCAYA. Coba saja Nabi cerita tentang Isra' Miraj ke generasi jaman sekarang. Mungkin gak ada sama sekali yang percaya sama Nabi dan menganggap Nabi gila. Menganggap diri sendiri sudah hebat dan semuanya terjadi karena kehebatan manusia.

Jadi sebenarnya seberapa besar iman kita? Mungkin kita hanya Percaya/Iman karena kita adalah keturunan dari orang-orang beragama Islam. Seandainya kita berada di situasi dulu seperti Para Sahabat Nabi, hati kita yang lemah nan egois ini pasti tidak akan percaya. Aku merasa betapa cetek imanku. Rasanya lupa kecanggihan dan keberuntungan saat ini pun karena perjuangan-perjuangan mereka jaman dulu. Rasanya lupa bahwa Allah, sang Goib yang membuat hari kita menjadi lancar. Rasanya lupa bahwa kegiatan-kegiatan yang kita lakukan semua karena adanya hembusan napas ritmis yang masih diijinkan oleh Allah. 

Subhanalloh sekali sahabat-sahabat jaman dulu. Semoga aku, keluarga, keturunanku, mukmin dan mukiminat bisa bersama mereka di surga kelak. Aaamiin

Cerita Koas : CereBellum CereSudah

Dulu pas preklinik, blok Neurologi itu bisa dibilang yang paling susahlah. Anatominya njlimet banget. Hal yang sekecil saraf aja diurusin. Itu kenapa menurutku Dokter Saraf itu Dokter yang paling pintar. Tapiiii kalo di Koas katanya Stase Neuro itu salah 1 yang paling enak. Dan itu benar, Bung.

Alasan kenapa Neuro enak adalah, pertama, Residennya selow, baik-baik dan ngajarin banget. Mereka seperti sudah terpatri bahwa tiap berinteraksi dengan Koas harus ada yang diajarin. Salah seorang Residen pernah bilang gini pas ada pasien IGD "Bentar ya diskusinya, tunggu urusan berkas-berkasnya selesai". Tuh kan kayak emang wajib banget ngajarin dek koasnya. Residen-residen sering juga memancing bertanya materi ke koas apalagi kalo koasnya pendiam kayak saya. 

Pengalaman IGD Neuro pertamaku adalah dengan Res Neuro tercharming, dr. E (cewek kok, cewek). Cantik, baik, pintar. Asli perfect. Doi pas periksa pasien sambil jelasin ke koas tentang interpretasi hasilnya yang mana jarang terjadi pada stase2ku sebelumnya. Terus doi dengan baik gitu nanyain kita tentang materi neuro yang kalo aku gak bisa jawab/salah jawabnya doi bakal ketawa anggun gitu sambil bilang "belajar lagi ya". *meleleh* 

 Alasan kedua, peraturannya gak ketat dan gak memberatkan. Ada IR-IR (Indonesia raya-istilah koas untuk sesuatu yang udah pasti itu modelnya, cara jawabnya, strukturnya atau dll) yang memang harus ditaati tapi ya selow-selow aja tuh. Residennya juga gak DKT (Daya Kongkon Tinggi). Bahkan Jaga Neuro itu menyenangkan walaupun harus gak pulang. Senang gitu bawaannya gak ketakutan dan kemerungsung kayak stase sebelah yang kotor bgt (Kotor : istilah koas kalo pasien banyak). Di Neuro kalo ada pasien yaudah sambil belajar. Gak ada pasien ya Tidur di Kamko (Kamar Koas).

Alasan ketiga, tugas-tugas di Neuro juga gak banyak. Cuma ada Mini Cx (Kontroversi penulisan: Mini Ceex, Mini Cex), yaitu memeriksa status neurologis pasien yang disaksikan Staff (dokter spesialis) neuro dan Preskas (Presentasi Kasus) yang juga dinilai oleh 1 staff. Setelah itu ada ujian besar yg terdiri dari Pilihan ganda dan OSCE. Simpel kan. 

Selain itu, ilmu di Neuro itu kayak pas banget sama waktunya cuma 4 minggu. Yang kompetensi Dokter Umum ya gak banyak gak kayak Interna yang ilmunya banyak banget bahkan 8 minggu aja masih jauh dari kata menguasai.

Kemudian, ada beberapa hal yang aku pelajari di Stase Neuro.

Satu, PENTING bgt ngejelasin ke pasien tentang sakit yang dialami pasien sekarang itu apa, bagaimana tatalaksananya, bagaimana prognosisnya. Residen-Residen Neuro sangat mencontohkan itu dan cara mereka melakukannya ke pasien itu Keren banget. Sopan, jelasin dengan bahasa awam, singkat dan padat tapi cukup kemudian bertanya "Ada yang ingin ditanyakan?" Astagaaaa teladan banget. Seperti itulah dulu kita diajarkan di preklinik dan mereka adalah pembuktian itu yang justru jarang dilakukan oleh dokter-dokter jaman sekarang. Banyak res atau staf yang cuma periksa dan kemudian hanya bilang kalo pasien perlu rawat inap. Tapi di Neuro mereka seperti udah turun temurun harus baik gitu bahkan Res terjutek pun begitu lho.

Kedua, stase Neuro itu rada pasiennya sering api-api (urgent, gawat, emergency). Jaga Malam pertamaku, ada pasien Code Blue yang butuh alat bantuan napas. Aku pun harus mem-Bagging pasien kurang lebih 3,5 jam! Itu encok banget. Belum 5 menit, tanganku udah kecapekan, ketauan kan kalo aku lemah. Sukurnya bergantian dengan teman koasku yang satunya juga jaga denganku. Tapi tetap ajaaaa. Ada nilai yg dapat diambil tapi dari mem-Bagging : 1) Bagging adalah olahraga tangan yang baik, 2) Betapa dekat jarak kematian pasien itu  dengan hembusan oksigen dari ambubag yang aku pencet. Aku tersadar betapa besar peran Dokter, Residen, Koas, Perawat, atau Tenaga Kesehatan lainnya terhadap keberlangsungan hidup pasien. Kalau saja aku berhenti memencet ambubag itu beberapa kali, pasien bisa langsung tidak bernyawa!

Jujur aku kaget, baru pertama kali Jaga sudah dapat pasien yang gak sadar dan butuh alat bantu napas kayak gitu. Ditambah lagi pasien itu baru tadi sore berteriak-teriak minta minum saat Residen bangsal dan koas mutar-mutar mapping pasien. Baru magribnya aku mengukur Tanda Vitalnya. Kenapa tiba-tiba jam setengah 10 malam pasien tiba-tiba udah gawat? 

Perasaanku campur aduk tuh. Aku berpikir jangan-jangan aku Koas pembawa Kematian seperti Conan. Miris liat si Ibu yang baru berusia 35 tahun tergeletak benar-benar sekarat. Semuda itu. Ditambah lagi setelah ngobrol dengan keluarganya saat sambil bagging, pasien memiliki 1 anak perempuan yang masih SMP. Aku bisikkan lirih ke Ibunya supaya kuat, supaya bertahan, demi keluarga dan anaknya. Aku komat-kamit membaca berbagai dzikir untuk ibunya dan karena aku juga takut. Pertama kali jaga Neuro, pertama kali bagging, pertama kali dibebankan menjaga nyawa pasien.

Tapi sayang, kegiatan mem-Baggingku sudah diminta untuk berhenti oleh Res nya sekitar jam 1 malam. Aku gak tau alasan pastinya yang aku tau saat itu sebagai koas Neuro baru adalah Reflex Kornea pasien sudah tidak ada. Mati Batang Otak something kata Resnya. Sejenak setelah aku berhenti bagging, Respiratory Rate pasien turun, turun, turun, turun sampe 0. Pasien sudah tidak bernafas. Sejenak kemudian tubuh pasien biru. Aku speechless. Why? Hey, dia masih 35 tahun? Hey, bagaimana nasib anaknya? Hey, siapa tau dia masih punya kesempatan? Aku mberebes mili. Rasanya aku rela bagging sampai pagi pun asal dia bisa bangun lagi. 

Aku pun disuruh mengurusi surat Kematian oleh Resnya. 

Pertama kali jaga Neuro, pertama kali bagging, pertama kali dibebankan menjaga nyawa pasien, pertama kali mengurus Surat Kematian.

Banyak lagi ilmu dan pengalaman yang aku dapat di Stase Neuro. Pernah ada hal lucu waktu ada pasien Kejang yang masuk ruang Resusitasi di IGD. Saat Res Neuro sibuk mewawncarai keluarga pasien, eeh seorang Koas Anestesi (yang markasnya memang di Ruang Resus) sibuk membunuh nyamuk dengan raket nyamuk. Yu know lah gimana bunyi raket nyamuk. Res Neuro langsung clinguk nyari sumber bunyi dan kemudian bilang "Dek nanti dulu ya nyari nyamuknya, ini pasiennya rentan kejang lagi". Akhirnya Koas Anes pun rela digigit nyamuk dulu.  

Ada juga teman koas yang nyinari mata pasien bukannya pake penlight malah pake senter yang cahaya putihnya terang banget, luas dan gak fokus. Kan kasian banget pasiennya. Kelakuan koas ini memang ada-ada aja.

Atau ada juga untuk pertama kalinya selama jadi koas aku merasa benar-benar di pukili (dimanfaatin, dizolimi, dikerjai) oleh sesama teman koas yang gak bangun pas tengah malam harus KUVS. Akhirnya aku keteteran ambil bagian dia. Ah ceritanya panjang. Kehidupan koas memang buas dan liar seperti di hutan 

Aku akan merindukan stase Neuro ini. Res-resnya, palu dan penlightnya, Anggrek 2 (markas Saraf), pasien-pasiennya yang baik padahal sudah sering berulang kali diperiksa oleh staff, res dan koas yang berbeda-beda. 

Terima kasih Neurologi. 

Prasangka

  “ Aku sesuai prasangka hamba-Ku  pada-Ku dan  Aku bersamanya  apabila ia  memohon  kepada-Ku"  (HR.Muslim) Sedari kecil, sejak menemu...