“Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku" (HR.Muslim)
Sedari kecil, sejak menemukan kalimat ini di salah satu buku motivasi, aku selalu berpegang pada kalimat ini. Tapiii, seiring bertambahnya usia, aku lupa dengan kalimat ini.
Menurutku, kehidupan dewasa ini benar-benar mengekspose aku pada realita yang pahit. Aku yang dulunya polos, positive thinking, penuh harapan, percaya mimpi lama kelamaan ditampar oleh kenyataaan bahwa how cruel, harsh, and unfair this world is. Aku yang dulunya punya pemikiran "Hope for the best, prepare for the worst" sekarang hanya tersisa "prepare for the worst". Aku yang dulunya pernah berada pada momen "aku cinta dunia ini" tapi sekarang lebih ke " I hate people" walaupun jujur sekarang sudah membaik somehow. Aku sudah lama sekali tidak mengutarakan "I hate people lagi", yaah apa artinya aku sudah sadar bahwa manusia benar-benar tidak bisa diharap dan accept it in the end, or perasaanku sudah tumpul. Skeptis terhadap dunia ini
Mungkin itu kenapa setiap aku lihat anak kecil, hatiku seperti tersenyum. Betapa innocent nya mereka, betapa bahagianya mereka, betapa tidak khawatirnya mereka terhadap dunia ini. Mereka gak tau betapa beratnya dunia setelah jadi dewasa. Hari ini anak-anak ini tengkar, besok udah bisa baikan lagi seperti semula, bahkan tanpa kata maaf atau sejenisnya.
Hari ini somehow, aku tiba-tiba teringat pada hadis qudsi itu kembali. Ironisnya, aku teringat justru karena ada orang lain yang nasibnya sedang tidak baik. Desperate. Bahkan kayak udah negative thinking kepada semesta (almost kinda blaming God and question why this things keep happening to her only?). Sedesperatenya aku, gak pernah sampai begitu. Aku merasa, plis plis jangan sampai nyalahin Alloh, jangan sampai negative thinking sama Alloh. Aku berusaha menghibur dan bilang percaya, percaya sama Alloh. Aku bahkan berniat mengiriminya hadis qudsi itu.
Di hari yang sama ini juga, seorang teman tiba-tiba mendapat kabar bahwa dia akan stase luar kota besar bulan depan di tempat yang jauh. Dan dia hanya bilang Alhamdulillah. Wow what a response. Kalo itu aku, aku pasti minimal berespons "hizzzzz". Ada aja. Selalu ada rasa tidak suka/tenang/lega. Selalu tidak pernah cukup.
Dua kontras yang berbeda.
Hadis Qudsi itu terngiang lagi.
Since when did I become so negative like this?
Aku harap di masa depan, mulai hari ini, perlahan, aku selalu ingat Hadis Qudsi ini. One day, whatever happens, I wish I could just say "Alhamdulillah". Just that. Full stop.
Mari berprasangka baik. Towards everything
Tidak ada komentar:
Posting Komentar