Sabtu, 08 September 2018

Cerita Koas : CereBellum CereSudah

Dulu pas preklinik, blok Neurologi itu bisa dibilang yang paling susahlah. Anatominya njlimet banget. Hal yang sekecil saraf aja diurusin. Itu kenapa menurutku Dokter Saraf itu Dokter yang paling pintar. Tapiiii kalo di Koas katanya Stase Neuro itu salah 1 yang paling enak. Dan itu benar, Bung.

Alasan kenapa Neuro enak adalah, pertama, Residennya selow, baik-baik dan ngajarin banget. Mereka seperti sudah terpatri bahwa tiap berinteraksi dengan Koas harus ada yang diajarin. Salah seorang Residen pernah bilang gini pas ada pasien IGD "Bentar ya diskusinya, tunggu urusan berkas-berkasnya selesai". Tuh kan kayak emang wajib banget ngajarin dek koasnya. Residen-residen sering juga memancing bertanya materi ke koas apalagi kalo koasnya pendiam kayak saya. 

Pengalaman IGD Neuro pertamaku adalah dengan Res Neuro tercharming, dr. E (cewek kok, cewek). Cantik, baik, pintar. Asli perfect. Doi pas periksa pasien sambil jelasin ke koas tentang interpretasi hasilnya yang mana jarang terjadi pada stase2ku sebelumnya. Terus doi dengan baik gitu nanyain kita tentang materi neuro yang kalo aku gak bisa jawab/salah jawabnya doi bakal ketawa anggun gitu sambil bilang "belajar lagi ya". *meleleh* 

 Alasan kedua, peraturannya gak ketat dan gak memberatkan. Ada IR-IR (Indonesia raya-istilah koas untuk sesuatu yang udah pasti itu modelnya, cara jawabnya, strukturnya atau dll) yang memang harus ditaati tapi ya selow-selow aja tuh. Residennya juga gak DKT (Daya Kongkon Tinggi). Bahkan Jaga Neuro itu menyenangkan walaupun harus gak pulang. Senang gitu bawaannya gak ketakutan dan kemerungsung kayak stase sebelah yang kotor bgt (Kotor : istilah koas kalo pasien banyak). Di Neuro kalo ada pasien yaudah sambil belajar. Gak ada pasien ya Tidur di Kamko (Kamar Koas).

Alasan ketiga, tugas-tugas di Neuro juga gak banyak. Cuma ada Mini Cx (Kontroversi penulisan: Mini Ceex, Mini Cex), yaitu memeriksa status neurologis pasien yang disaksikan Staff (dokter spesialis) neuro dan Preskas (Presentasi Kasus) yang juga dinilai oleh 1 staff. Setelah itu ada ujian besar yg terdiri dari Pilihan ganda dan OSCE. Simpel kan. 

Selain itu, ilmu di Neuro itu kayak pas banget sama waktunya cuma 4 minggu. Yang kompetensi Dokter Umum ya gak banyak gak kayak Interna yang ilmunya banyak banget bahkan 8 minggu aja masih jauh dari kata menguasai.

Kemudian, ada beberapa hal yang aku pelajari di Stase Neuro.

Satu, PENTING bgt ngejelasin ke pasien tentang sakit yang dialami pasien sekarang itu apa, bagaimana tatalaksananya, bagaimana prognosisnya. Residen-Residen Neuro sangat mencontohkan itu dan cara mereka melakukannya ke pasien itu Keren banget. Sopan, jelasin dengan bahasa awam, singkat dan padat tapi cukup kemudian bertanya "Ada yang ingin ditanyakan?" Astagaaaa teladan banget. Seperti itulah dulu kita diajarkan di preklinik dan mereka adalah pembuktian itu yang justru jarang dilakukan oleh dokter-dokter jaman sekarang. Banyak res atau staf yang cuma periksa dan kemudian hanya bilang kalo pasien perlu rawat inap. Tapi di Neuro mereka seperti udah turun temurun harus baik gitu bahkan Res terjutek pun begitu lho.

Kedua, stase Neuro itu rada pasiennya sering api-api (urgent, gawat, emergency). Jaga Malam pertamaku, ada pasien Code Blue yang butuh alat bantuan napas. Aku pun harus mem-Bagging pasien kurang lebih 3,5 jam! Itu encok banget. Belum 5 menit, tanganku udah kecapekan, ketauan kan kalo aku lemah. Sukurnya bergantian dengan teman koasku yang satunya juga jaga denganku. Tapi tetap ajaaaa. Ada nilai yg dapat diambil tapi dari mem-Bagging : 1) Bagging adalah olahraga tangan yang baik, 2) Betapa dekat jarak kematian pasien itu  dengan hembusan oksigen dari ambubag yang aku pencet. Aku tersadar betapa besar peran Dokter, Residen, Koas, Perawat, atau Tenaga Kesehatan lainnya terhadap keberlangsungan hidup pasien. Kalau saja aku berhenti memencet ambubag itu beberapa kali, pasien bisa langsung tidak bernyawa!

Jujur aku kaget, baru pertama kali Jaga sudah dapat pasien yang gak sadar dan butuh alat bantu napas kayak gitu. Ditambah lagi pasien itu baru tadi sore berteriak-teriak minta minum saat Residen bangsal dan koas mutar-mutar mapping pasien. Baru magribnya aku mengukur Tanda Vitalnya. Kenapa tiba-tiba jam setengah 10 malam pasien tiba-tiba udah gawat? 

Perasaanku campur aduk tuh. Aku berpikir jangan-jangan aku Koas pembawa Kematian seperti Conan. Miris liat si Ibu yang baru berusia 35 tahun tergeletak benar-benar sekarat. Semuda itu. Ditambah lagi setelah ngobrol dengan keluarganya saat sambil bagging, pasien memiliki 1 anak perempuan yang masih SMP. Aku bisikkan lirih ke Ibunya supaya kuat, supaya bertahan, demi keluarga dan anaknya. Aku komat-kamit membaca berbagai dzikir untuk ibunya dan karena aku juga takut. Pertama kali jaga Neuro, pertama kali bagging, pertama kali dibebankan menjaga nyawa pasien.

Tapi sayang, kegiatan mem-Baggingku sudah diminta untuk berhenti oleh Res nya sekitar jam 1 malam. Aku gak tau alasan pastinya yang aku tau saat itu sebagai koas Neuro baru adalah Reflex Kornea pasien sudah tidak ada. Mati Batang Otak something kata Resnya. Sejenak setelah aku berhenti bagging, Respiratory Rate pasien turun, turun, turun, turun sampe 0. Pasien sudah tidak bernafas. Sejenak kemudian tubuh pasien biru. Aku speechless. Why? Hey, dia masih 35 tahun? Hey, bagaimana nasib anaknya? Hey, siapa tau dia masih punya kesempatan? Aku mberebes mili. Rasanya aku rela bagging sampai pagi pun asal dia bisa bangun lagi. 

Aku pun disuruh mengurusi surat Kematian oleh Resnya. 

Pertama kali jaga Neuro, pertama kali bagging, pertama kali dibebankan menjaga nyawa pasien, pertama kali mengurus Surat Kematian.

Banyak lagi ilmu dan pengalaman yang aku dapat di Stase Neuro. Pernah ada hal lucu waktu ada pasien Kejang yang masuk ruang Resusitasi di IGD. Saat Res Neuro sibuk mewawncarai keluarga pasien, eeh seorang Koas Anestesi (yang markasnya memang di Ruang Resus) sibuk membunuh nyamuk dengan raket nyamuk. Yu know lah gimana bunyi raket nyamuk. Res Neuro langsung clinguk nyari sumber bunyi dan kemudian bilang "Dek nanti dulu ya nyari nyamuknya, ini pasiennya rentan kejang lagi". Akhirnya Koas Anes pun rela digigit nyamuk dulu.  

Ada juga teman koas yang nyinari mata pasien bukannya pake penlight malah pake senter yang cahaya putihnya terang banget, luas dan gak fokus. Kan kasian banget pasiennya. Kelakuan koas ini memang ada-ada aja.

Atau ada juga untuk pertama kalinya selama jadi koas aku merasa benar-benar di pukili (dimanfaatin, dizolimi, dikerjai) oleh sesama teman koas yang gak bangun pas tengah malam harus KUVS. Akhirnya aku keteteran ambil bagian dia. Ah ceritanya panjang. Kehidupan koas memang buas dan liar seperti di hutan 

Aku akan merindukan stase Neuro ini. Res-resnya, palu dan penlightnya, Anggrek 2 (markas Saraf), pasien-pasiennya yang baik padahal sudah sering berulang kali diperiksa oleh staff, res dan koas yang berbeda-beda. 

Terima kasih Neurologi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang Dipikirkan Sahabat Jomblo Setiap Kita Cerita Kisah Cinta

 Warning: tulisan ini tidak sengaja aku temukan di buku catatanku. Aku juga gak tau ini jaman aku SMA atau Kuliah. Jujur saja aku juga kaget...