Aku bukanlah orang terkenal. Bukan orang paling pintar. Bukan cewek paling alim. Bukan penggede. Aku hanya orang biasa. Tidak pandai dalam banyak hal. Aku juga bukan berasal dari keluarga Kaya. Bukan berasal dari Sekolah yang mungkin masuk 10 terbaik se-Indonesia. Bahkan mungkin sekolahku tidak termasuk dalam 100 sekolah terbaik se-Indonesia. Aku juga gak datang dari Kota besar. Aku hanya anak yang berasal dari daerah yang tidak banyak orang tau namanya.
Dengan itu semua, bukan berarti aku merasa tidak ada hal yang spesial dari diriku. Ada 1 hal yang membuat aku merasa sangat beruntung. 1 hal yang akhir-akhir ini sering sekali mengingatkan aku untuk banyak bersyukur. Apa itu? Aku berasal dari keluargaku yang sekarang yang menurutku sangat hebat sekali.
Kenapa aku bilang begitu? yak, mungkin teman-temanku yang lain pandai sekali dalam pelajaran, jempolan dalam berorasi, handal memainkan segala jenis alat musik, telaten dalam memasak dan sejenisnya dan hal-hal lain yang membuat mereka tampak "idaman". Hal-hal itu kadang buat aku berpikir WOW, keren sekali mereka. Tapi makin kesini aku makin sadar, bahwa ada hal yang ada di diriku yang tidak atau jarang aku temui dalam diri mereka.
Kepedulian, Perhatian-perhatian kecil, Kejujuran, Kedisiplinan, Kesopanan, Kepatuhan dan banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang menurutku sangat penting tapi tidak begitu penting bagi orang lain. Kepribadian seperti itu yang membuat aku bersyukur lahir dari keluarga ini. Bukan berarti aku sempurna, sama sekali gak hanya saja menurutku sifat seperti itulah yang "ternyata" lebih dibutuhkan oleh orang-orang sekitar kita. Aku sampe heran, gimana sih cara dulu orang tuaku mendidik aku?
Aku sangat penurut. Kalo umiku bilang aku gak boleh makan ini, gak boleh beli makan disitu aku pasti nurut walaupun aku gak tau alasannya apa. Aku ramah ke teman-temanku. Aku sering mendatangi mereka yang sendirian, meninggikan hati mereka yang lagi merasa minder, bertanya tentang bagaimana kabar keluarga mereka, bertanya tentang hal-hal yang mereka sukai yang walaupun aku gak suka dan tidak mengerti, misalnya bagaimana kabar kepanitiaan yang mereka ikuti, gimana kelanjutan hubungan mereka dengan gebetannya, gimana kabar tim basket kesukaan mereka, gimana kabar sahabat-sahabat mereka yang bahkan aku gak kenal dan seterusnya. Aku adalah pendengar yang baik (ini sudah diakui oleh teman-temanku), aku selalu antusias bertanya setiap kali mereka bercerita, bahkan ada teman-teman yang menceritakan rahasianya, atau yang nangis sambil curhat. Aku gak masalah kalo suatu saat pas aku ingin cerita mereka gak ada buat aku. Aku menawarkan teman-temanku untuk nginap di rumahku, di kosku atau datang main ke kampung halamanku, dengan sangat serius bahkan memaksa, bukan basa basi. Sementara banyak temanku yang tidak merasa perlu untuk menawarkan untuk sekedar main ke rumahnya. Aku memperlakukan tamu dengan baik, aku beri mereka keleluasaan, aku biarkan mereka tidur di kasur yang berdipan dan aku dengan kasur biasa di lantai. Bahkan pernah, hari itu adalah hari pertama ketemu teman-teman setelah sekian lama libur, yaah pasti senanglah ketemu teman kan, tapi aku malah gak ngobrol2 dulu, aku malah buru-buru pulang karena ada temanku yang datang menginap dan menunggu di kosan. Setelah aku sampe kosan dia bahkan sama sekali tidak menungguku. Padahal dulu, orang yang sama ini pernah membuat aku jera dan gak ingin datang main kerumahnya lagi karena penerimaannya yang kurang baik.
Aku memperkenalkan keluargaku ke teman-teman dekatku. Menurutku orang-orang penting dalam hidupku harus saling mengenal. Keluargaku tau tiap-tiap temanku, bagaimana perkembangan merekapun Umiku juga tau. Tiap nelpon, umi selalu tanya gimana kabar temanmu. Setiap ketemu Abang, pertanyaannya juga sama. Tapi tidak banyak orang yang gak sama seperti itu.
Aku selalu datang tepat waktu (kecuali hal-hal yang sudah pasti aku tau bakalan telat). Tapi banyak orang yang meremehkan ketepatan waktu. Okelah kalo itu cuma berhubungan sama dirinya sendiri tapi kalo dalam suatu kelompok ada 1 aja orang seperti itu, itu menurutku sudah cukup membuat orang lain memandang sebelah mata. Dan masalahnya, bukan cuma 1 orang, tapi banyak. Bukan telat 1-5 menit tapi bisa sampe 30 menit. Hal seperti itu malah dijadikan tradisi. Ketika aku berusaha memberi tau, malah banyak yang mendukung tindakan yang kurang tepat itu.
Aku jujur, bisa dibilang aku hampir tidak pernah menyontek (kecuali tugas-tugas yang emang "indonesia raya"). Menurutku kejujuran sangat penting. Ketika kamu liat orang-orang yang nyontek dengan getolnya hanya demi nilai tanpa pernah setitik pun mencoba untuk belajar, maka jangan banyak berharap. Rasanya kekerenan mereka digadaikan untuk hal-hal yang bersifat hanya penilaian dari manusia. Pernah ada kejadian, map dari puskesmas untuk kampus yang didalamnya ada nilai kita selama belajar disitu dibuka oleh teman-temanku. padahal mapnya pun udah disegel/disteples yang tujuannya ya supaya kita gak ngeliat. Terus aku cegah supaya gak dibuka, aku bilang nanti aja minta liat sama pihak kampus, biasanya boleh kalo pengen tau nilainya. Teman-teman yang lain malah gak dukung aku. Mereka malah hal seperti itu udah biasa, pihak kampus juga pasti ngerti dan mereka bilang akan menyegelnya lagi setelah dibuka. Astagaaa aku kaget saat itu.
Aku gak berkata kotor. Dan kebalikannya dengan orang lain. Mereka mengucapkannnya dengan biasa saja, sangat biasa dan santai. "Anj***ng" , "F**k", "T*i", "Ba**ke", dan seterusnya. Itu padahal sangat kasar menurutku. Tapi bagi mereka itu semua biasa aja. Toh sudah tersebar luas kan yang begituan pikir mereka. Menurutku saja, "Anjir" itu gak ada bedanya dengan "Anj**ng", sama aja kan. Niatnya kesitu juga kan. Ada temenku, kedua orang tuanya dokter yah udah pastilah mikirnya pasti terhormat, dia juga keliatan sopan anaknya. Eeh tau-taunya dia ngomong begituan sambil teriak di depan umum, langsung jatuh nilai dirinya dimataku.
Aku gak sopan-sopan amat, tapi aku mencoba. Setidaknya aku tidak main hp disaat ada dosen, asisten, kapuskes yang sedang menjelaskan. Aku tidak sibuk bicara sendiri dengan berisiknya saat dosen, asisten dan kapuskes berbicara di depan.
Aku tidak terlalu peduli dengan orang lain. Tapi aku cukup peduli dengan orang-orang dekatku. Aku bertanya gimana kabar mereka? ada masalah apa? Kamu kenapa kok diam? Kamu kalo kenapa2 jangan sungkan2 bilang, sering kasih semangat, sering berusaha bikin orang tenang dan lain-lain. Hal-hal sepele yang makin sedikit jumlah yang melakukannya. Aku juga sering menawarkan ke teman-teman yang rumahnya jauh dan lagi ada kegiatan di kampus untuk mampir aja di kosku kalo ingin sekedar berteduh, istirahat dan mandi. Dan gak banyak orang yang ngelakuin itu. Kosanku lumayan jauh dari kampus dan kadang ada jam kosong yang kalo aku balik ke kosan itu seperti buang-buang waktu karena waktunya kebanyakan di jalan, tapi gak ada 1 pun temanku yang ngeh terus nawarin aku untuk kekosannya dia untuk mengisi kekosongan waktu.Terus pernah juga waktu itu aku sama 2 temanku abis makan bareng, terus ujan sementara kosanku jauh, mereka sama sekali gak nawarin aku untung nebeng bentar di kosan mereka, padahal aku boncengin salah 1 dari mereka. Yaah, gak usah kuatir lah masalah kamar kos yang kotor dan berantakan, dapat tempat untuk berteduh aja cukup yang walopun ditawari sekalipun, aku belum tentu akan terima karena merasa gek enak. Seandainya itu aku, pasti udah aku tahan harus diam dikosanku sampe ujannya reda baru boleh balik.
Aku juga bukan tipe pendebat. Aku kebanyakan diam dalam diskusi. Aku gak banyak menjawab dan bertanya. Banyak orang jaman sekarang yang dalam percakapan biasa saja sering berdebat seakan-akan mencari kesalahan temannya. Hal-hal sepele diperdebatkan. Mengkritik tapi tidak mau dikritik. Saat orang lain sedikit saja keliru, udah di bilangin gini gitu, tapi giliran dirinya dikasih masukan malah ngeles ini itu, bilangnya "orang kan beda-beda". Selalu berlindung dibalik kata itu. Sehingga dia bisa mengkritik kapan saja dan kita gak akan pernah bisa berusaha menasihati dia.
Baru-baru ini teman-temanku cerita gaimana dulu ia dikerasi sama ibunya karena nakal dan sering main dan bolos sehingga sekarang menjadi mandiri. Aku heran gimana mungkin aku gak pernah coba untuk bolos sampe dimarahin ortu? gak pernah. aku gak ada niat untuk bolos dulu waktu kecil dimana notabenenya anak kecil selalu pengen main. Orang tua ku juga gak keras mendidikku. Mereka hanya tegas dan berprinsip yang seakan-akan terlihat keras. Temanku juga cerita gimana kalo orang tua temannya melarang ini itu ke anaknya sehingga ketika anaknya besar, ia malah menjadi anak pembohong demi melakukan hal2 yg dilarang. tapi aku gak. Aku dilarang, ya udah aku nurut. Gak mencoba untuk berbohong dan mengikuti hawa nafsu.
Banyak, banyak lagi. Aku tau aku masih sangat jauh sempurna. Tapi dengan melihat keadaan disekitarku itu, aku menjadi sangat sangat bersyukur aku telah lahir di tengah-tengah keluarga yang gila kerennya. Aku benar-benar gak nyangka gimana bisa orang tua aku bentuk aku yang seperti ini? Apa mantranya ? gimana caranya? Subhanalloh. Semakin kesini, semakin aku dewasa, banyak hal yang dulu aku tak mengerti membuat aku mengerti, yang dulu mataku tertutup sekarang terbuka. Petanyaan pertanyaan yang dulu sering bersemayam dalam hidupku mulai terjawab. Mungkin ini juga salah 1 manfaat aku tinggal di daerah yang bukan kota metropolitan. Kesederhanaan keluarga dan lingkunganku mengajarkanku untuk jd orang yang sederhana pula, menjadi orang yang tidak banyak meminta, tapi lebih banyak bekerja menjalani kewajiban...
Allah selalu punya rencana... semoga apa kebaikan yang ada di diriku akan tetap menjadi baik, dan apa yang belum baik, akan segera menjadi baik...
Just feel very very lucky to be a part of this family.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Yang Dipikirkan Sahabat Jomblo Setiap Kita Cerita Kisah Cinta
Warning: tulisan ini tidak sengaja aku temukan di buku catatanku. Aku juga gak tau ini jaman aku SMA atau Kuliah. Jujur saja aku juga kaget...
-
Akhir-akhir ini aku bener-bener sadar kenapa Nabi bilang kalo "Diam adalah Emas". Kita gak pernah tau kata-kata kita yang mana ya...
-
Sudah 2018 saja! Semakin tahun, semakin gak terasa lamanya 1 tahun itu. Gak kayak jaman kecil yang rasanya panjang. Mungkin karena maki...
-
Beberapa hal terjadi belakangan ini. Dan lagi-lagi aku berpikir terlalu jauh. Tapi itu membuatku belajar. Kelompokku melakukan kegiatan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar