Kamis, 26 Maret 2020

Refleksi Diri dari Film

Berhubung ujian UKMPPD  yang normalnya Mei dilaksanakan tapi jadi  DITIADAKAN, mungkin aku akhirnya punya ide untuk nulis atau cuma ngoceh (?) *angkat bahu*

Tapi aku bukan mau ngoceh tentang "gini amat ya jadi anak FK", tapi tentang hal lain. Ini berkaitan dengan film The Platform yang baru beberapa hari lalu aku nonton. Aku bukan mau bahas banyak ke film, tapi makna dibalik film itu dan betapa relatenya dengan Aku (dan keadaan sekarang).

WARNING : MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER

Singkatnya, film ini bercerita tentang suatu penjara (?) dimana penjaranya itu bertingkat vertikal. Dari penjara no 1 - sekian, berapa banyak tingkat juga para penghuni tidak tau, yang mereka tau banyak sekali dan ratusan. Setiap hari diberi makan 1x sehari dimulai dari penjara lantai 1. Makanan itu akan terus turun ke penjara lantai bawah dan bawahnya lagi. Jadi, orang-orang di lantai 2 akan makan sisa makanan dari lantai 1. Orang-orang dari lantai 3 akan makan makanan sisa dari lantai 2 dan seterusnya sampai bawah. Dan jelas aja, semua orang pada rakus, makan tidak sesuai porsinya, bahkan injak-injak makanan, karena apa? karena ada satu peraturan dimana setiap 1 bulan, penghuni penjara akan dirotasi lantai secara random. Kamu bisa di lantai 4 sekarang tapi bulan depan bisa jadi kamu di lantai 201. Maka siapapun yang masih dalam kategori angka-angka lantai kecil akan makan sesuka hati tanpa menghiraukan lantai 100, 150, 200 dan seterusnya. Mau mereka dapat makan sisa kek, makanan kotor kek atau gak dapat makanan sama sekali kek, orang-orang lantai atas gak peduli. Yang penting saat ini mereka beruntung karena bulan berikutnya  mereka bisa jadi di lantai 100 dan gak dapat makan sama sekali.

Kemudian adalah 1 penghuni baru yang namanya Goreng (aku ketawa waktu tau namanya). Dia masih innocent. Dia diajarin sama teman sekamarnya tentang sistem di penjara itu. Awal-awal dia bingung, kenapa orang bisa berperilaku begitu. Hari-hari awal juga bahkan dia gak makan. Dia berusaha untuk bicara dengan orang di lantai bawah dan atas untuk makan seadanya dan jangan berlebihan. Jelas saja mereka tidak mau dengar.  Tapi karena tuntutan lapar akhirnya dia makan dan beradaptasi mumpung dia masih untung berada di lantai 48 saat itu. Tapi dia tetap baik dan makan seadanya.

1 bulan berlalu, waktunya rotasi dan dia bareng teman kamarnya kedapatan di lantai 171! bukan nomor yang bagus. Teman sekamarnya pun mengikat si Goreng,  karena mereka jelas gak akan kebagian makanan dari lantai-lantai atas, maka Goreng harus jadi tumbal. Padahal mereka udah dekat dan bersahabat. Bayangkan!
Kusingkat saja, intinya si Goreng selamat, teman sekamarnya mati, 1 bulan kemudian dia rotasi dan dapat lantai 33 dengan teman sekamar baru.

Teman kamar barunya persis melakukan yang dulu Goreng lakukan, berusaha ngomong dengan orang lantai bawah supaya makannya dibatasi, yap masih idealis dan innocent. Tapi Goreng, dia sudah paham dengan kejamnya penjara itu, dia hanya diam, tidak banyak komentar, tetap makan biasa seadanya tapi tidak lagi sibuk mengurus orang lain. Tidak lagi sibuk mengurus makanan untuk orang-orang di lantai lebih bawah.
(cerita filmnya masih panjang jadi jangan sedih kalo sudah spoiler sampe sini :p)

BALIK KE KEHIDUPAN NYATA !

Mirip bukan dengan kehidupan nyata?  'orang-orang atas' semakin rakus dan rakus. Hanya mikir yang penting makan, yang penting kenyang, gak peduli 'orang-orang bawah' berjuang mati-matian rebutan untuk dapat makan. Tapiii ketika suatu saat 'orang-orang bawah' tadi naik jadi orang besar a.k.a orang atas, mereka lupa dulu pernah susah, malah justru melanjutkan siklus yang sudah ada di masyarakat.

Daaan seberapa banyak orang-orang idealis dan innocent kayak Goreng yang peduli sesama tapi pada akhirnya sadar akan realita dan akhirnya lebih memilih main aman. Urus diri aja sendiri untuk bertahan hidup, ngapain urus orang lain.

Daaaan sayangnya lagi, aku merasa aku adalah Goreng. Bukan sombong atau apa, tapi aku merasa dulu aku sangat innocent, selalu positif, selalu memotivasi, mengajak pada kebaikan, bermimpi besar, pengen bantu banyak orang, pengen bikin dunia lebih baik. Tapi entah sejak kapan, setelah dihapkan dengan realita dunia yang kejam, aku malah jadi si Goreng setelah dia melewati lantai 177. Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. "Urus diri sendiri aja susah apalagi urus orang lain" . Aku jadi main aman. Aku bantu orang kalo aku bisa dengan kemampuanku, aku gak jahatin orang. Kalo aku gak bisa bantu yaudah sori. Aku gak lagi begitu peduli sama orang lain. Gak nanya kalo mereka gak nunjukin punya masalah. Gak inisiatif untuk bantu. Gak berusaha untuk mengajak orang lain bareng-bareng ubah sistem, bareng-bareng bantu orang lain. Gak memberi pendapat di suatu forum. Karena apa? toh mereka gak bakal mau dengar kan? Toh siklusnya akan tetap begini.

Aku jadi tidak percaya sama dunia. Malas berharap. Tidak bermimpi tinggi-tinggi. Tidak percaya dengan sistem. Cuma berusaha 'fit in' , beradaptasi walaupun gak sesuai hati nurani. Menjalankan yang aku anggap benar, tidak melakukan kejahatan. Itu. Tapi betapa menyedihkannya sikap seperti itu sebenarnya?

Waktu aku nonton film itu, aku merasa kalo aku di posisi itu pasti aku bakal kayak teman barunya si Goreng yang di lantai 33 yang peduli dengan orang lain dan terus berusaha setiap hari mengingatkan orang di lantai bawah untuk makan seperlunya. Aku pasti akan terus berusaha selamanya. Tapi kemudian aku tersentil "jangan-jangan aku adalah Goreng" setelah baca review dari Forbes :

"Adults, like Goreng, have been living in the system for too long, and have been shaped by its injustices; they can fight for a better future, but have been hopelessly corrupted in the process. " 


Sedih gak sih. Padahal yo aku blm adult-adult banget 😰. Aku mungkin butuh suatu pemantik yang bisa memicu lagi kepedulian itu. entah apa itu. Semoga aku (dan manusia-manusia lainnya seperti Goreng dan aku 😏) berani ambil langkah untuk berusaha membuat dunia lebih baik seperti Goreng pada akhirnya (makanya nonton filmnya biar tau 😛). Seperti apa yang hati nurani kita bisikkan. Semoga kita tetap menjaga niat-niat baik nan mulia masa kecil kita hingga tua nanti.



Aaamiin



NB
1. Lebay banget w anak kampung bahas-bahas "dunia" :p
2. ini 2 link ending explanation film The Platform yang bagus menurut w

Sabtu, 18 Januari 2020

Hold on

Aku jadi sadar penyebab aku sering merasa lonely di era ini adalah karena aku jarang bicara tentang hal-hal mendalam dengan orang lain. Hal-hal emosional. Hal-hal yang berkaitan jiwa. Bukan hal-hal yang sangat permukaan, bukan gosip, bukan.. Aku menyadari aku tidak punya teman untuk itu. Nobody cares, nobody wants to.  
Aku ingin berbicara tentang mimpi-mimpi besar yang sekarang sedang aku cari-cari dimana keberadaannya karena sepertinya aku sudah kehilangannya. Aku ingin bicara tentang transformasi diriku dan orang-orang jaman sekarang, tentang bagaimana masa lalu mempengaruhiku, tentang bagaimana keadaan keluargamu mempengaruhiku, tentang bagaimana lingkungan mempengaruhiku, tentang aku yang seperti kebingungan, hilang arah dan hilang jati diri. 

Rasa-rasanya aku ingin bicara sama stranger yang tiba-tiba bersedia mendengar, ngomong tentang semua-muanya. Karena terkadang lebih baik cerita ke orang yang tidak mengerti sama sekali, yang tidak ada hubungannya sama sekali. Karena mereka tidak akan menghakimi. But I don't have that stranger.

Aku juga jadi pengen ke terapis gitu. ala-ala film Dear Zindagi. Ngomong. Ngomong. Ngomong.

Aku kenapa sih? aku juga gak ngerti

Aku sampai mengimajinasikan ada orang lain entah teman entah stranger tadi lagi ngobrol ke aku. Tapi ya aku sendiri juga yang jadi mereka, aku sendiri yang jawab, aku sendiri yang berusaha menenangkan aku, kalimat-kalimatnya juga dari aku, hanya saja aku menganggapnya itu dari orang lain. Sometimes it works. Itu kenapa aku sering ngomong sendiri. Hahaha. Tapi kayaknya ngomong sendiri ini sudah dari dulu. Cuma sekarang lebih berat pembicaraannya. 

Lemah banget kan? wkwwk


Jumat, 16 Agustus 2019

16 Agustus

Rasanya kebosanan sehari-hari karena monotonnya aktivitas, aku jadi mengalihkan sifat ingin mengeksplorku, mencoba hal-hal baru, ke arah Makanan. Aku jadi kepengen mencoba berbagai makanan. Terutama yg manis-manis. Terutama yang berkalori tinggi. Yang berminyak, yang banyak zat aditifnya. Terutama juga minum-minuman beraroma, berasa, berwarna dan berkemasan. 

Jiwa petualanganku (sebenarnya) besar. Pengen naik gunung, pengen ke gua2an, ke situs-situs yang bagus. Tapi apalah dikata. Pertama, aku kuper jadi seperti tidak tau arah harus apa naik apa persiapannya bagaimana kalo mau pergi berpetualang. Kedua, aku kadang pengen banget tapi ujung-ujungnya gak jadi. Jadi (ternyata) aku mageran. Ketiga, sering gak dikasih juga sama Umi tercinta karena khawatir dengan anaknya. Ya akhirnya hasrat tersebut dialihkan ke hal yang paling gampang, makanan. 

Judulnya 16 Agustus? Hah aku bukan orang yg begitu nasionalis jadi postingan ini gak ada hubugannya dengan Hari Kemerdekaan besok. Cuma gak tau aja mau ngasih judul apa. Judul Random udah pernah ada, nanti ini jadi Random season 2. Kan kayak Sinetron. Padahal sudah cukup banyak drama dalam hidupku ini.

Kalo dipikir-pikir emang bosan banget. Apalagi kalo udah nyentuh malam kayak gini. Pagi bangun, siap2 kerja koas, koas sampe sore, pulang koas, ngerjain tugas/belajar/ada aja urusan gitu, malam nonton Kuis Siapa Berani di TVRI (saking nerdnya w), habis itu balik ke laptop entah belajar/nyari tugas lagi atau nonton. Monoton. Rasanya kurang ada apa yaa, percikan, sparkle, getaran, surprise yg bikin berbeda. Paling cuma nonton aja elemen surprisenya. Tapi kadang kan aku juga bosan nonton terus. Apalagi klo sudah malam Sabtu sm malam Minggu.... bukan, bukan karena jomblo, tp karena Kuis Siapa Berani gak tayang di malam-malam itu. Mbok ada kek selain Kuis itu acara yg aku nanti-nanti tiap malam, kan jadi ada sensasi menunggu dan excited tiap harinya. Itu kenapa klo ada event2 kayak Sea Games, Piala Dunia, Olimpiade dan sejenisnya itu aku senang banget. Tiap hari ada yg aku tungguin.

Makin bosan aja gara-gara aku sendirian aja. Gak ada yg diajak ngomong di rumah. Masa iya aku ajak ngomong Tokek di belakang rumah yg kadang aku bayangkan adalah Prince yang dikutuk jadi Tokek dan suatu hari nanti berubah lagi jadi Prince. Tapi kadang aku ajak ngomong beneran sih. Gak ada tempat cerita-cerita juga. Gak ada juga yg mau diceritain. 

Kan jadi pengen punya anak gitu, bukan untuk di rawat tapi cuma untuk ada yg imut-imutlah gitu di rumah. Tapi gak usah dikasih makan, gak usah dikasih susu.

Sebenarnya kerjaan ada aja sih. Seperti lantai kamar mandi kotor, kamar kotor, rumah kotor, baju berantakan, nyuci, membangun negeri, selamatkan dunia dari penjahat. Tapi malas yaa kalo itu kerjaannya. 

Ini aja aku ngidam bakso tiba-tiba. Huufth

Yaudahlah selamat Hari Kemerdekaan ke 74, Indonesia!

Selasa, 30 Juli 2019

23

23 tahun pada 23 Juli. 23 tahun! gaes 23! wow! Udah tua aja ya. Bagiku 23 udah masuk kategori atau level yang berbeda dari 22 kebawah. By the way, 22 is not as cool as Taylor Swift's song. Umur 22 justru rasanya kayak banyak cobaan, banyak up and down. Sekalinya down, yang down banget. Ada benernya banget sih Lagu 22 nya Taylor terutama dibagian "CONFUSED & LONELY at the same time". Ugh Lonely nya apa lagi, kerasa banget. Belakangan aku menemukan bahwa aku tipe kepribadian INFJ, yg memang wajar kalau sering merasa sendiri dan sepi. Aku pengen cerita tentang INFJ ini, entah lain waktu maybe.

Tapi 22 sudah berlalu. Gak tau deh "keseruan" apa yang akan terjadi di 23. Aku (harus) sangat Semangat! :p  . Aku pernah menghayal di umur 23 pada 23 Juli, aku akan berhenti menua. Secara hitungan memang usia bertambah, tapi secara fisik pertumbuhanku tetap di umur 23. Sejenis film The Age of Adelaine wkwkwk. Jadi walaupun sebenarnya tua aku akan tetap awet muda, tetap dengan muka seperti sekarang (walaupun mukaku terhitung muka tua sih), rambut tetap hitam, kulit kencang, badan sehat dan kuat. You wish!

Aku gak tau aku harus apa di usia 23. Aku gak membuat plan atau target apa-apa. Sudah lama aku tidak lagi membuat target tiap tahun baru, target tiap masuk usia baru, target per semester, target per 6 bulan, per tahun per 5 tahun. I dont know why. Padahal aku tau itu penting, tapi aku serasa hilang selera. Aku takut target yang kubuat tidak tercapai. Padahal tidak membuat target sama sekali juga artinya tidak semakin berusaha. Aku seperti tidak sesemangat dulu. Aku juga gak tau kenapa bisa seperti ini. Early quarter life crisis? Mungkin.

But at least, I hope in my 23 years old, aku bisa lebih mencintai diriku sendiri. Ya beginilah aku. Bukan aku yang aneh, tapi ini sudah kepribadian yang mungkin sudah dari sononya ditakdirkan begini. Aku tidak harus seperti orang-orang. Tidak perlu tau gosip artis/selebgram/bahkan gosip di perkKoas-an demi bisa nge-blend dengan orang lain. Tidak perlu suka politik kalo memang tidak suka. Tidak harus tau semua hal supaya bisa ngobrol dengan berbagai kalangan. Kalo memang aku nyaman dengan apa yang sekarang dan merasa itu sudah cukup, tidak melanggar kebenaran, yaudah. Penemuanku tentang INFJ, sedikit membuatku lega dan tidak lebih keras ke diriku sendiri. Aku ingin lebih PERCAYA degan diriku sendiri. Ketika orang takut atau ragu aku sering sekali bilang ke mereka " Kamu bisa kok. Aku aja percaya sama kamu, masa kamu gak percaya sama diri kamu sendiri", tapi aku pun sering sekali merendahkan diriku sendiri. 

Aku baru aja baca suatu hal yang bilang, mungkin memang kita tidak lagi idealis tapi realistis, menerima apa yang ada dan berusaha mensyukurinya. Di kehidupan Koas, dimana harapan tinggiku dihempaskan berkali-kali, rasanya aku memang tidak bisa berbuat apa selain berusaha menerima, bersyukur. Baru sadar kan menerima alias qanaah itu gak gampang. Sering banget juga lupa bersyukur. Again, walaupun begitu aku harus tetap berusaha dengan caraku sendiri, semampuku, jika memang lingkungan ini tidak bisa memberi apa yang aku harapkan.

Dan terakhir, aku ingin sehat. Sehat secara fisik dan mental.

Semoga aku selalu ingat ini. Semoga suatu saat ketika aku baca lagi tulisan ini, aku bisa tersenyum karena keadaan yang sudah jauh membaik

Sabtu, 01 Juni 2019

1 tahun Koas!

Pas Mei tahun lalu aku resmi jadi Koas, bagian persekolahan kedokteran yang katanya Wow banget dalam banyak segi. Setelah 1 tahun, "katanya" itu benar sekali. Satu tahun yang lalu masuk koas awal-awal Ramadhan, sekarang pun Ramadhan. Dulu pas itu dapatnya Blok Besar Interna, sekarang juga dapat Blok Besar Obsgyn. Waktu itu pas puasa-puasa LK (Luar Kota), sekarang di Obsgyn juga begitu, walaupun lebih ringan di Obsgyn sih.

Banyak sekali pengalaman, cerita, ilmu (sedikit sih kalo ini), kejadian-kejadian yang memorable selama Koas. Masa-masa koas ini adalah masa memperjuangkan mimpi tapi terhalang realita sekaligus masa-masa menjadi dewasa yang masalah-masalahnya hemmmz banget, pake z lho bangetz. Jadi gitu deh drama.

Ada banyak hal juga yang berubah dari diriku sendiri dan orang-orang. Dulu misal si X orangnya biasa aja eeeh masuk koas jadi terkenal pato. Dulu si Y jarang banget masuk kuliah setelah jadi koas eeh jadi rajin dan teladan. Tapi ada juga yang awalnya Invisible eeeh setelah jadi koas tetap invisible contohnya aku. Eits maksudnya bukan invisible karena ilang-ilangan hlooh ya.

Dulu waktu awal saat interaksi dengan Koas Senior (selanjutnya disebut Sen) yang udah duluan koas, pas mereka ngeluh ini itu ketika disuruh, gak mau disuruh KUVS, aku langsung mikir "wah ini pasti Koas Pato". Aku dulu bersedia disuruh apa aja karena memang aku disini belajar, karena aku anak baru, karena merasa bersyukur aku bisa sekolah dan dapat kesempatan ini yang gak mungkin di dapatkan orang lain. Masa disuruh gitu aja gak mau, pikirku. Sayangnya, aku pun mulai seperti itu sekarang. Aku ngeluh disuruh ini itu (dulu sebenarnya ngeluh juga sih, tapi gak kayak sekarang), aku malas banget KUVS walaupun tetap aku lakuin, aku mempertanyakan (dalam hati) alasan disuruh ini, kenapa sih harus KUVS per berapa jam, DJJ per berapa jam, kenapa pasien yang seperti ini juga harus diitung BC dan lain-lain. Aku seperti merasa harga diriku terlalu tinggi dibanding sebelumnya. Kalo perawat atau bidan yang suruh, bawaannya itu "kok nyuruh-nyuruh kita sih, residennya aja gak". 

Aku sedih sih dan sering sekali dalam solatku (atau kesendirianku :p) aku mempertanyakan "apakah harga diriku sudah tinggi sekarang? apakah aku sama saja dengan orang-orang yang dulu aku anggap pato? apa sekarang aku sudah malas? apa aku jadi koas yang kurang bersyukur padahal dulu bersedia disuruh apa aja sebagai bentuk syukur bisa sekolah kedokteran?". Aku gak tau aku begini apa karena sudah bosan, apa karena merasa disuruh-suruh aja tapi tidak diberikan ilmu dan alasan kenapa kita disuruh x, y, z. Atau karena pengaruh teman-teman yang memang kuat banget. Jujur saja banyak teman yang seperti itu dan males disuruh Bu Bidan/Perawat karena merasa diri lebih tinggi. Atau aku memang sudah males aja? 

Kebelakang aku memang merasa semakin malas. Belajar males atau seadanya. Stase gelinding aja, gak ngerti-ngerti banget yang penting lulus. Aku dulu mikir "ah gak ah, sampai terakhirpun aku akan/harus tetap curious dan semangat", tapi rasanya susaaah banget. 

Hal itu mungkin juga karena hal kedua yang sering aku pikirkan dalam kesendirianku (lagi), "kok kayak bukan sekolah kedokteran ya". Iya emang, sekolahnya emang kedokteran, kerjanya di rumah sakit, tapi kok kerjanya disuruh-suruh mulu, pintarnya gak. Ekspektasiku ke Koas itu tinggi sekali, eh pas masuk rasanya dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Aku pikir ilmu preklinik bisa diterapkan prakteknya disini. Bener sih, tapi gak maksimal. Entah sistemnya apa gimana. Ya kita juga terbatas, karena koas kerjanya KUVS doang atau hal-hal yang seharusnya kita bisa semua dipegang Residen dan residen sendiri berebutan untuk bisa skill ttt apalagi koas. Residen juga sering minta kita ngelakuin ini itu tanpa perlu menjelaskan kenapa harus begitu/begini. Residen gak merasa perlu menjelaskan "pasien yang datang tadi itu gini lho. nah ciri-cirinya tadi kan ini itu. jadi dikasih ini itu". Kadang kita hanya menemani duduk di ruangan/igd/manapun, bantu nulis, bantu melengkapi berkas, bantu ngetik, sudah. Gak semua Residen sih. Yang mau ngejelasin juga banyak. Dan kadang hal ini pun berlaku di Staff juga.

Koas juga dituntut untuk tau ini itu tapi tidak diarahkan kesana dan kesini supaya bisa ini itu tadi. Kadang Kehidupan di koas juga kita dinilai dari akhirnya saja, saat ujian, saat berhadapan dan sejenisnya. Tidak melihat proses kita sehari-hari. Tidak melihat mana yang datang selalu telat, yang kadang masuk kadang gak, yang biasa nujum atau lainnya. Ya emang susah sih menilai proses diantara koas dan res yang begitu banyak. Bahkan kadang kita dinilai dari penampilan!

Itu yang bikin ekspektasiku jatuh. Di saat serius pengen tau banyak, tapi kayak diredam seakan-akan "ah yang penting kamu tau yang standar2 aja", "ah yang penting lulus", "ah yang penting tugas-tugas beres". Aku pun jadi berpikir "ah gak usah serius-serius toh nanti yang keluar standar aja", "ah gak usah dalem-dalem toh nanti ujiannya IR", "ah gelinding wae toh nanti yang keren yang hasilnya lebih bagus". Padahal kan bukan nilai target akhir, tapi lebih jauh dari sekedar itu. 

Dalem banget ya? hahaha

Hal ketiga yang sering aku pikirkan adalah Drama banget ya Koas itu. Kalau kata temanku bilang, "Kita sering lupa film-film dan sinetron itu lah yang sebenarnya menyontoh kehidupan nyata". Dramanya koas macam-macam bentuk. Mulai diantara koas itu sendiri, koas dengan residen, koas dengan perawat, koas dengan staff, koas dengan presiden (?), dan lain-lain. Aku sih sebagai koas cari aman, cuma beberapa kali bermasalah sama residen yang cukup serius sukurnya gak kenapa-napa. kalo  sama perawat gak pernah. Sesama koas? heemmz banyak tapi ada yang diungkapkan, banyakan yang aku julid sendiri dalam hati terus aku jadi "oh jadi dia orangnya gini, okay liat aja" terus aku panggil ibu peri untuk mengerjai mereka. Tapi sayangnya itu hanya hayalan. Dipukilin? mungkin cukup sering (karena aku juga orangnya itu independen gitu jadi kalo bisa sendiri males ngemis2 ke orang untuk inisiatif). Dihianati? pernah. Diomongin/digunjingin dibelakang? kayaknya sering (tapi aku cuek). Ditinggalkan? pernah. Dibohongi? pernah. 

Karena sudah memasuki dewasa pun, drama-drama di kehidupan koas juga bisa menyentuh ke arah-arah dewasaaaa yang bagi aku yang polos ini sgt bikin shock. Aku hampir bisa saja mengalaminya. Sukur saja aku masih diberi keberuntungan. Aku jadi merasa, kehidupan dewasa bisa sekejam itu. Ckckck

huuufth

Akhir kata, semoga diri ini masih diberi semangat, keikhlasan, diberi rasa syukur dan hanya berpatokan untuk mencari Ridho-Nya. Semoga ilmu-ilmu yang kecil-kecil itu bisa terbayar nantinya dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi. Semoga diri ini masih terus dilindungi, dikuatkan agar bertahan di jalan yang benar, dan diberi keberuntungan.

Semoga 1 tahun sisa Koas, bisa dimanfaatkan dengan baik dan jadi masa yang keren kayak yang nulis. 

Aamiinn. 

Jumat, 28 Desember 2018

Cerita Koas : Behind the Story

It's not easy. At all.

Ini bukan saja tentang Koas tapi lingkungan disekitarnya, tumbuh dewasa bersamanya.

Di awal masuk Koas saja aku sudah berpikir "Aku rasa aku gak akan menganjurkan anakku jadi Dokter". Because it's not easy.

Aku ibarat gelas kaca yang bagus dan dijaga-jaga tapi gampang pecah sewaktu-waktu.
Baru tergores saja susah untuk diperbaiki.

Dengan anankastikku, aku semakin berkurang dan berkurang dalam hal mempercayai orang lain. Aku gak parcaya orang lain. Even my family.

Rasanya semakin merasa sendiri dan sendiri. No body really cares.

Situasi, keadaaan dan orang-orang sekitarmu somehow (walaupun tak langsung) menunjukkan kalo kamu gak worth it, kamu jelek, kamu bodoh, kamu useless, kamu kampungan, kamu annoying, kamu gak terkenal, kamu bukan anak siapa-siapa, kamu gak kaya daaaan lainnya. Begitulah standar-standar manusia pada umumnya. Dan sayangnya kamu minoritas.

Sangat gak enak rasanya jalan bersama orang yang gak sejalan dengan kamu.

Bete banget rasanya ketika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tidak dihargai.

Jengkel rasanya kamu gampang sekali dilupakan.

Rasanya kegelapan perlahan merasuk merenggut kebahagiaanku.

ini dan itu

semuanya kecil awalnya. tapi bertambah bertambah bertambah dan numpuk, sesak. Sampai akhirnya meledak dan pecah. Tumpah isi gelas kaca tadi.

It's just not easy kawan. at all.

Rabu, 07 November 2018

Era Hoax, Era Ham, Era Julid

Aku yang anak kelahiran 90an aja ngerasa banget perbedaan hidup jaman dulu dan sekarang. Cepat sekali masa berubah. Teknologi makin canggih, budaya dan kebiasaan juga berubah.

Aku yg orangnya old fashioned agak risih ya dengan perubahan sekarang. Banyak banget yang berubah dari hal yang kita gak notice karena dianggap sepele karena udah umum sampe yang hal-hal yang vital.

HP dengan segala kecanggihannya banyak sudah merubah orang-orang. Keluarga yang dulunya dekat dan waktu dihabiskan bersama, sekarang masing-masing sibuk nonton hp nya. Dulu, 1 tv di ruang tengah walaupun gak terlalu suka acaranya ya ikut aja nonton karena demi kumpul bareng, sekarang karena ada kesenangan lain (baca : HP) mana ada yang tersisa di ruang tengah untuk nonton TV.

Dulu kalo makan bareng teman-teman ya pasti saling ngobrol sambil nunggu pesanan datang. Sekarang, semua main hp masing2. Sampe pernah jengkel banget gara-gara ada seorang teman yang aku ajak ngobrol pas makan bareng, eh dia gak dengar dan gak ngeh aku ajak ngobrol saking serius dengan hpnya. Kadang, kalo makan bareng rame-rame gitu, aku sendiri yang gak pegang hp, aku liatin semua temanku pegang hp masing-masing, aku bete, aku akhirnya ikutan pegang hp walaupun gak ada yang dibuka-buka juga.

Dulu waktu awal-awal punya aplikasi chat line, bete banget kalo orang yang aku chat gak balas chat alasan karena sibuk atau tenggelam atau mungkin aja karena dianggap gak terlalu penting. Sejak ada aplikasi chat gini rasanya semua orang bisa hubungi kita termasuk yang gak penting (baca: chat grup yang rame bgt) akhirnya sampe yang bisa jadi penting malah tenggelam. Tapi lama-lama karena kebiasaan digituin kali ya, aku jg mulai mengabaikan chat orang yang aku anggap gak penting, balasnya nanti-nanti, balas yang lain dulu, bukan membalas berdasarkan siapa yang ngechat dulu. Jadi dianggap biasa kan? padahal dulu itu gak biasa.

Dulu juga kalo ngechat di grup gak dibalas aku marah dan merasa orang-orang gak sopan apalagi kalo langsung ada yg ngechat dengan topik lain tanpa membalas punyaku dulu. Lama-lama aku terbiasa digituin dan jadi gituin orang lain. Dianggap biasa jg kan? padahal dulu aku anggap itu gak sopan.

Tanpa sadar adat atau kebiasaan baik yang kita punya itu mulai terkikis. Pelan-pelan sekali. Seringnya kita gak sadar.

itu hal sepele sih. Belum lagi hal lainnya.

Rasanya orang-orang sekarang juga makin individual. Sedikit-sedikit "itu urusan pribadi mereka", "itu hak mereka". Padahal dulu gak gitu banget deh. Misalnya kalo ada laki sama cewek belum nikah masuk kamar sampe nginap, ya didiamin aja juga. Urusan mereka.
Ada tetangga yang suka aniaya anaknya, kita juga diam aja. Urusan mereka.
Duh banyak deh contohnya.

Bukankah dulu jaman sekolah di Mapel Sosiologi selalu disebut-sebut suatu bentuk hukuman yang dari masyarakat sendiri berupa  pengucilan sejenisnya. Dulu orang-orang yang melanggar norma ya akan digunjinggkan atau dikucilkan. Iya emang sih menggunjing gak baik, dikucilkan juga tega amat. Tapi jika sudah dinasihati dan masih saja melanggar, pengucilan itu penting. Supaya jera. Supaya orang lain gak niru sikap yang salah tersebut. Kalo apa-apa serba "biarin", "urusan mereka" ya nanti semua orang juga bakal menyimpang karena gak merasa salah dan gak merasa dapat hukuman apa-apa.

Lagipula, bukannya tugas kita untuk mengingatkan?

Mengingatkan, diarahkan, diluruskan, dikembalikan ke yang seharusnya bukan malah "urusan mereka", "urusan mereka" terus.

Yang ada malah orang-orang seringnya menggunjingkan hal-hal yang jauh dan gak terlalu penting. Yang diurusin malah artis-artis yang cuma dilihat di akun medsos. Yang dijulidin malah misal tentang kejelekan artis karena gak pake makeup, pacarnya si artis yang gak terlalu ganteng/cantik,  julid hanya karena typo.

Apalagi ya sekarang Ya Alloh orang-orang pada gampangnya ngomong "tolol", "goblok", "idiot" atau nyebut-nyebut nama binatang ke orang lain hanya karena komenan polos orang lain. Yang memang gak ngerti dibilang tolol, yang berpendapat juga langsung di sebut 'an****g'. Kenapa gak jelasin baik-baik aja. Kenapa harus senyolot itu. Kenapa jaman sekarang sering sekali orang-orang ngomong sadis begitu dengan gampang dan santainya. Dan lagi, begituan udah dianggap biasa. See, semakin banyak yang dianggap lumrah.

Aku jadi mikir, katanya kalo orang sensitif itu artinya dia kurang jauh mainnya, kurang banyak temannya. Bisa jadi. Aku akui itu benar. Tapi gak selamanya benar juga. Bisa jadi kebanyakan orang sudah menganggap "biasa" tentang hal-hal yang dianggap "sensitif" oleh orang yang yg kurang jauh mainnya itu.

Udah gitu yang nyolot-nyolot itu juga belum tentu bener. Semua mau menangnya sendiri. Semuanya berteori begini begitu padahal belum tentu bener. Sampe aku juga bingung mana yang benar di dunia ini jaman sekarang. Sulit sekali mempercayai media terutama. Media sekarang rasanya terlalu gampang memvonis, tidak melihat dari 2 sisi, tidak mencari fakta tapi mencari popularitas.Sudah gitu hoax dimana-mana. Media berita terkenalpun bisa hoax. Kebenaran rasanya blur sekali saat ini. 

Banyak informasi-informasi yang ditambah-tambahi, dibumbui, dimanipulasi, menggiring publik ke suatu kesimpulan tertentu. I dont know. Jujur aku bingung. Mana lagi jaman sekarang rentan banget Sara. Apa-apa dikaitin agama padahal aslinya gak ada hubungannya dengan agama. agama dibawa-bawa jadi bahan lucuan padahal jatuhnya juga gak lucu. lalu orang-orang jadi berpihak sana sini, berteori begini dan begitu. Padahal komen-komen atau debat-debat masalah agama itu harus hati-hati banget lho. Rentan sekali. Satu debatan atau teori yang kita ungkapkan dan misalnya ternyata itu salah di Mata Alloh, berdosalah kita apalagi postingan/cuitan kita itu dilihat oleh followers kita, diretweet juga oleh mereka, berlipat-lipatlah dosa kita. Alangkah baiknya sebarkan kebaikan saja, hal-hal yang meragukan dan belum pasti kebenarannya kita tinggalkan saja.

Apalagi sekarang banyak banget Muslim yang ikut berbagi/ngelike/retweet hal-hal negatif tentang Islam. Anggaplah misalnya pihak muslim memang salah, ya tapi gak usahlah ikut menggembar-gemborkan pake caption "really?" atau semacamnya. Toh selalu ada 2 sisi dari setiap cerita. Toh seperti yang aku bilang tadi, bisa jadi media yang mengadu domba. Toh kadang kesalahan/kenegatifan itu bukan berkaitan dengan agama, semua orang dengan agama berbeda bisa berada dalam posisi itu. I mean, janganlah kita yang muslim malah menambah-nambah citra jelek agama kita. Jangan sampe orang agama lain melihat bahwa orang muslim sendiri tidak percaya dan tidak suka dengan agamanya sendiri.

Seperti yang diajarkan Nabi, jika riskan sebaiknya diam. Jika mendapat info/berita, harus cek dan recek. Jika ingin mengkritik, lakukanlah perorangan jangan didepan publik.

Wallohualam Bis Showab.
Semoga diri ini dilindungi Alloh dan selalu berada di jalan yang benar.

Prasangka

  “ Aku sesuai prasangka hamba-Ku  pada-Ku dan  Aku bersamanya  apabila ia  memohon  kepada-Ku"  (HR.Muslim) Sedari kecil, sejak menemu...