Rabu, 29 November 2017

Lakukanlah yang Memang Harus Kamu Lakukan tanpa Melihat Siapa Orangnya

Beberapa hal terjadi belakangan ini. Dan lagi-lagi aku berpikir terlalu jauh. Tapi itu membuatku belajar.

Kelompokku melakukan kegiatan praktikum lapangan di salah 1 puskesmas daerah Boyolali. Sebut saja, kelompokku kurang memuaskan pihak puskesmas dalam banyak hal. Kami juga dikritik banyak. Tentu saja semua anggota kelompok merasa was-was. Bagaimana nasib nilai kita nantinya?
Setelah pertemuan terakhir dengan puskesmas, sudah pada ribut
"udah gak usah galau, palingan nilai kita 7", kata salah 1 teman yang sebenarnya keliatan juga raut khawatir dari ekspresinya.
" Iya ih aku takut", kata teman lainnya.
Teman yang lain pun berkata, "Aku sih bukan takut nilainya, tapi aku gak enak sama Puskesmasnya. Suatu saat kita akan jadi Dokter dan bisa jadi kita bekerjasama dengan Puskesmas ini tapi citra kita udah dinilai negatif."
Aku pun berkata, " Aku juga bukan tentang nilainya. Aku lebih gak enak karena kita gak lakuin yang terbaik untuk puskesmanya."

Teman-teman yang awalnya malas banget dalam praktikum ini, yang telat mulu, yang gak bisa diajak kerjasama, yang cueknya minta ampun padahal di grup line hectic tentang ini itu, hanya jadi silent reader, gak muncul. muncul saat hepi aja. Teman-teman yang benar-benar gak maksimal untuk praktikum lapangan ini, yang menganggap sepele, yang egoisnya sampe kita telat hanya gara2 nungguin dia, yang udah diingetin ini itu tapi pesannya cuma di read. Agggh. Mereka masih bisa khawatir dengan nilai mereka? Bukannya mereka seharusnya sudah siap untuk dapat nilai jelek? Apa mereka gak sadar persiapan kita sama sekali gak maksimal? Apa mereka gak sadar kalo kita sama sekali cuek dan tidak ada inisiatif ke praktikum ini? Kita juga udah beberapa kali mengecewakan. Apa yang mau diharap? Kok masih bisa takut nilai jelek tanpa sadar apa yang diperbuat. Kok minta hak lebih tapi kewajiban tidak dijalankan sepenuhnya.

Selalu berpikir ke nilai, nilai, nilai, nilai, nilai. Emang nilai segalanya? Aku tau nilai penting. Aku juga tau aku gak muna' aku khawatir juga dengan nilaiku. Tapi itu bukan yang utama. Aku lebih merasa gak enak telah mengecewakan. Aku sudah belajar, bahwa nilai bukanlah yang utama. Yang utama adalah sudah mencoba melakukan yang terbaik, setelah itu? pasrah saja. Karena pada kenyataan, kadang usaha berlebih kamu tidak sesuai dengan apa yang kamu dapatkan bahkan dibanding orang yang usahanya kecil. Banyak faktor yang mempengaruhi. Lalu kalo yang sudah berusaha lebih saja masih belum tentu dapat yang terbaik, apalagi yang gak berusaha?

Ditambah lagi, memikirkan pendapat orang lain. Setelah nilai, teman yang lain bahkan berpikir karena suatu saat akan bekerja dgn pihak bersangkutan. Oke itu gak salah. Tapi apa berarti kalo suatu saat kita tidak akan bekerjasama dengan orang yang bersangkutan, kita tidak akan merasa bersalah karena telah mengecewakan? Seakan-akan semuanya itu harus ada something in return. Tidak bisakah kita berbuat baik karena memang itulah yang harus kita lakukan, karena memang itu kewajiban kita, karena memang itu perintah Tuhan? Bukan karena nilai, bukan karena akan mendapatkan keuntungan di masa depan....

Kejadian lain. Ada sebuah teman cowok yang berdiri dibelakang mobil kemudian mobil tersebut mundur dan tidak menyangka ada sebuah motor dibelakangnya. jatuhlah si teman ini. Pacar si cowok yang melihat kejadian tersebut sontak marah ke Mbak-mbak yang ngendarain mobil. Mbak yang notabenenya kating kita dan cukup terkenal langsung meminta maaf. tapi si pacar masih saja dengan galaknya marah2 dengan si Mbak kating. Kemudian kami yang melihat kejadian itu pun mulai membicarakannya. Seorang teman berkata "ih galak banget sih Mawar (sebut saja begitu wkwkwk kayak dicerita2). Sadis banget yo dia marah-marah sebegitunya padahal Mbaknya udah minta maaf."

" Kalo kamu di posisi itu gimana?", kataku
"Ya mungkin aku juga marah sih. Hehe tapi gak sampe sebegitunya. Kamu?"
"Aku gak tau sih. Mungkin aku juga marah. tapi gak sampe sebegitunya soalnya aku kan sabar gimana gitu wkwk. Tapi gak tau sih. Seandainya aku yang ditabrak pasti aku cuma pasrah tapi terkadang orang-orang yg menyayangi kita itu bisa marah banget. Kayak umiku misalnya."
" Iyaaa bener. Tapi ya Mal, itu kating lho. Mbaknya udah minta maaf. Ya aku kalo kejadian gitu diluar sama orang yang aku gak kenal aku mungkin marah bgt. Tapi ini kating kita lho. Kita kan siapa tau butuh sama dia."
" Berarti kamu klo sm orang gak dikenal bakal marah bgt?"
"iya"

Kenapa? I mean, bersikaplah yang seharusnya. Kalo kamu mau marah, ya marah. Kenapa harus liat orangnya. Mentang-mentang Mbaknya terkenal, punya posisi jadi harus hati2. Kalo orang diluar sana, yang gak ada hubungannya dengan kehidupanmu kamu bisa marah sepuasnya karena toh kamu gak butuh dia. Bahkan mungkin seandainya itu kating kita, tapi gak terkenal dan gak punya jabatan, kita boleh marah sepuasnya.

Kejadian ketiga. Seorang teman cerita bahwa teman dekat cowoknya sepertinya mengarah ke gay. Dia bertanya bagaimana seharusnya dia bertindak. Teman-teman menyarankan dibawa santai aja, dibawa bercanda aja, atau bilang 'kamu mau ikut jalan yang mana itu hakmu'. Si teman ini takut klo dia jelasin bahwa itu salah, menentang agama, dia terlihat benar-benar menentang pilihan hidupnya, kemudian dia gak diajak main dan ngerumpi lagi.
Menurutku, kalo itu bener-bener teman dekatnya, d-e-k-a-t, dia mungkin memang harus menjelaskan apa yang benar, bagaimana seharusnya. Tentu saja dengan cara tidak menghakimi. Tentu saja dengan bilang, "aku teman dekat kamu. aku peduli. Makanya aku ngomong gini. Aku mau yg terbaik buat kamu." Karena menurutku begitulah teman seharusnya. Meluruskan yang salah. Bukan membiarkan temannya dalam kesalahan. Kalo katanya puisi2 di internet bukan membungkus pukulan dengan ciuman. Bukan selalu meng-iya-kan, membenarkan yang salah karena dia teman kita dan karena kita menerima dia apa adanya. Palsu. Buat apa menerima apa adanya kalo bisa dirubah menjadi lebih baik. Kalimat menerima adanya itu gak selalu pas di semua kondisi. Setidaknya kita mengingatkan seperti perintah agama, apalagiii dia itu teman dekat kita. Masa kita gak peduli sama dia, masa kita gak sedih dia jadi kayak gitu. Oke semua orang punya pilihan, punya hak tapi cobalah berusaha dulu. Setelah berusaha dan hasilnya apapun ya pasrah. Entah mungkin dia bakalan benci dan jauhin kita.

Kenapa harus takut dia menjauhi kita gak main sama kita lagi karena kita memberi tau mereka hal yang benar? Oke sakit memang, sedih memang. Tapi memberitau kebenaran adalah wajib. orang yang tidak merugi adalah orang yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. "rugilah, kita jadi kehilangan teman". Kelihatannya seperti itu. Itu kan yang keliatan saja. Yang terlihat bukanlah hal-hal abadi, bukanlah hal-hal utama. Mungkin saja Allah menyediakan teman yang lebih baik pada kita..

Maksudku, lakukanlah apa yang memang seharusnya kamu lakukan. Berbuat baiklah karena memang itu tugasmu bukan karena melihat orang  yang akan dibaiki itu siapa. Marahlah kalo kamu memang seharusnya marah tanpa harus menahan amarah karena orangnya siapa...

Aku tau, aku pun masih belajar dan malah belajar dari hal ini....
Ini hanya pemikiran  jauhku...
Hanya masa pencarian mana yang benar dan salah

Datang untuk Sekedar Berkunjung

Ya memang yaa kalo dibaca-baca kebanyakan postinganku disini isinya nyinyir, bete, ngeluh dan sejenisnya. Ternyata emang kalo lagi emosi negatif itu lebih kuat mendorong untuk nulis. Sama kayak kata Taylor Swift kalo lagi sedih dan putus cinta itu lebih gampang ide muncul untuk nulis lagu gak kayak kalo lagi kasmaran justru kita malah terlena. Wkwkwk. Itu juga kenapa manusia kalo lagi marah pasti langsung keluar deh kata-kata, teriakan dan lain-lain gak kayak kalo lagi kagum atau bangga atau mungkin cinta pasti gak langsung blak-blakan diungkapkan.

Tapi kalo di buku diary beneran sih aku gak jarang nulis tentang bahagia juga.

Aku sebenarnya gak ada hal yang ingin di tulis. Hanya datang berkunjung. Mungkin rindu menulis. Mungkin rindu akan suatu kondisi atau keadaan tertentu yang gak bisa aku jelaskan. Kadang aku merindukan sesuatu yang gak ada atau gak pernah aku alami. Kalian pernah juga? Aneh ya.

Diri ini kadang susah sekali dimengerti. Padahal diri sendiri lho. Apalagi orang lain. Apalagi kalo pake kode. Jadi sebaiknya kalian dengan orang-orang yang sudah kalian percaya dan dekat tidak usah lah berkode-kode, bilang saja biar orang lain juga gak bingung. Emang mereka dukun yang bisa baca isi hati kamu? Tapi walaupun aku ngomong gini, aku tetap sering sih pake kode. Merasa tidak enak, pekewuh atau tidak sopan kalo tidak pake kode dalam kondisi tertentu. Kadang aku malah pendam aja. Sering sekali aku pendam. tapi orang emang kebanyakan gak ngertinya ya haha.

Mungkin itu juga kadang yang sering buat sikapku (sikap yang tidak terlihat ya) berubah-ubah. Aku kadang ngomong sama diri sendiri untuk tidak berharap kalo aku kecewa, tapi di lain waktu aku tetap berharapan positif. Kadang aku berniat untuk menarik diri dan berusaha mandiri saja ketika orang-orang tidak mengerti aku, tapi di lain waktu aku jadi dekat lagi dan malah tergantung. Sering aku memutuskan untuk berhenti peduli tapi sering juga di waktu lain aku tetap saja peduli dan malah bikin kecewa.

Ah dasar. Sepertinya dilema anak usia kepala 20 memang hal-hal yang kayak gini ya. Tentang apakah aku harus begini atau begitu? Yang baik sebenarnya yang begini atau begitu? Aku harus bagaimana?


Yah sudahlah. Dinikmati saja. Semoga saja blog ini tidak melulu isi nyinyiran tapi bisa juga hal-hal lebih bahagia dan positif. Seperti Taylor Swift yang akhirnya bisa menulis lagu ketika beneran sedang jatuh cinta, aku juga yakin aku akan nulis banyak hal ketika aku sedang bahagia-bahagianya.

Senin, 06 November 2017

Sesuatu yang Bukan Materi

Seharusnya aku gak sedang nulis sekarang. Seharusnya aku segera merevisi skripsiku yang yaaah semoga saja bisa segera selesai. Kawan, skripsi memang salah satu hal yang rasanya malesin amatz.

Karena bosan di skripsi aku berniat untuk menghibur diri sebentar dengan kumpulan video di laptop. Eh di folder video ada 1 file yang bentuknya bukan video tapi rekaman. Aku tau itu suara nyanyiku waktu kecil yang direkam di HP Siemens norak jaman dulu. Disitu aku nyanyi lagu bahasa arabnya anggota-anggota tubuh. Lucu sekali. Imut. Berapa kalipun diulang akan tetap imut. Bahkan aku sampai sekarang pun orangnya masih imut dan suaraku juga masih menggemaskan. setiap kali aku dengar ulang rekaman kuliah yang kadang terselip suara obrolanku dgn teman, aku sadar aku masih sama imutnya kayak dulu. wkwkwk Geer tingkat dewa. Jujur saja sebenarnya tp aku berharap suaraku berubah tidak cempreng dan kekanak2an, tp apa mau dikata aku sudah lewat masa puber dan suara masih ttp sama saja.

Pas disebelah audio itu ada video yang sangat aku ingat. Aku tergelitik untuk membukanya walaupun sudah lama sekali tidak aku buka karena kecewa mungkin bisa dibilang kecewa dgn orang2 di videonya.

Yap, itu video ultah salah satu teman lama. Video hadiah persembahan ultah buat dia. Aku masih ingat sekali aku yang susah payah buat video itu. Aku yg amatir sekali dalam pembuatan video, berusaha belajar walaupun cuma pake Movie Maker. Udah gitu, berkali-kali error padahal sudah capek2 buatnya tapi pas di proses jadi video berkali-kali gagal.

Isi videonya simpel. Foto-foto diri sendiri si yang ultah diiiringi lagu One direction- Live While We're Young sbg backsound. Dilanjutkan video potongan2 kita (teman-temannya, ada 6 orang) mengucapkan selamat ultah sekaligus doa, pesan, kesan. Backsoundnya lagu Sheila on 7-Arti sahabat dan project pop yang liriknya pokoknya "ingatlah hari ini". Dilanjutkan lagi foto2 kita (6 orang td) sendiri-sendiri terus yang bareng dengan si yang ultah. Lagu pengiringnya adalah lagu sadisnya Adele- Hiding My Heart tapi yang versi dinyanyiin oleh Iin X-Factor. Jujur saja yg dinyanyiin Iin bisa lebih terasa emosinya. DIlanjutkan dengan beberapa kata mutiara dan kata-kata sayang dari kita dengan bentuk tulisan.

Simpel. Tapi menurutku luar biasa. Sweet sekali. Aku bahkan sekarang pun masih tersenyum-senyum nontonnya. Emang biasa sih, namanya juga amatir. Tapi kalo aku jadi yg ultah dan dikasih hadiah seperti itu aku senangnya bukan main. Itu dikerjakan dengan jerih payah lho. Pengumpulan fotonya, sortir mana yg bagus, pengambilan video (ini bukan aku sih yg lakuin, tp teman yg lain), buat videonya yg susah. Dia (si ultah) juga tau kalo kita bukan ahli pembuatan video. Seharusnya hadiah itu membuat lebih berarti lagi.

Itu suatu hadiah yg bukan bentuk materi. Bukan barang mahal, hanya bermodalkan CD-RW. Bukan kue ultah, bukan baju, bukan cincin, bukan benda-benda. Itu sesuatu yang dibuat dengan mikir, dengan kreativitas dan dengan tenaga, bukan tinggal beli aja. Aku ingat sekali bagaimana seriusnya aku buat itu sampe umiku jarang main komputer karena komputernya aku pake. Aku pernah sebegitunya lho demi kasih orang hadiah.

Tapi mungkin bagi banyak orang, hadiahseperti itu kurang disukai. Kalo aku dibuatin video kenangan, video ucapan kayak gitu, dibuatin puisi or sejenisnya aku bakal hepi bats. karena justru itu yg so sweet. Sesuatu yg bukan bentuk material lebih so sweet menurutku. Yah aku mmg tipe orang tradisional. Ha Ha.

Semoga lah entah kapan dan siapa aku bisa dapat hal seperti itu.

Minggu, 22 Oktober 2017

"Mungkin ini udah saatnya aku ke luar negeri"

Aku baru aja selesai Field Lab. Tangan ini tergerak untuk mengetik pengalaman ini yaah walaupun aku sedang minggu persiapan Ujian Blok Komplementer yang susah dipahami itu. sebenarnya tiap aku selesai FL sering sekali ada kejadian yg bikin aku pengen curhat gitu ke buku diaryku entah itu kelompok FL ku yang mana saja. Modelnya selalu sama dan berulang-ulang. dan tipikal ceritaku di blog ini ya begitu-begitu aja ttg aku yg terlihat kaku, nyinyir dan berbeda dari kebanyakan orang.

Ya karena sesungguhnya aku memiliki kekuatan super....



 gak ding.



Kadang-kadang hal2 yg akan aku ceritakan ini yang bikin aku sering sekali bersyukur banget aku lahir dikeluargaku sekarang. Lahir dan dibesarkan oleh Ibu kuat yang luar biasa bgt. Tumbuh dengan buku-buku bacaan yang dapat dibilang baik dan membentuk karakter. benar sekali quote yg bilang "Kamu adalah apa yang kamu baca". Serius ini berdampak besar bgt lho. Dan aku bahkan sedikit menyesal karena walaupun suka baca, tp aku masih gak begitu banyak baca dan kekurangan akses buku bagus waktu aku hidup di Sumbawa (pdhal pas di jawa juga ttp gak srg beli buku hohohoho. mahal broh dan buku skrg jg isinya ttg nikah, taaruf, pacaran islami dll yang astagaaaa itu itu aja memenuhi toko buku. emang hidup hanya ttg cinta lawan jenis aja. ini juga fenomena).  Tapi dibalik itu aku bersyukur sekali juga karena tumbuh di Sumbawa sebagai anak kampung yg belum terlalu dilahap jaman, belum disentuh pengaruh kota yg individual, dan gak diselubungi keliberalan yang  diam-diam merasuk perlahan.

Ketika aku selalu berusaha melakukan yang terbaik tapi orang-orang sekitarku melakukan seadanya bahkan tidak bisa dibilang baik. Okelah kalo itu untuk dirimu sendiri terserah tp kalo atas nama kelompok gitu ya mbok mikir sedikit gitu, mbok ya pekewuh "aku lg dikelompok nih. aku gak boleh males2an nanti yg lain jd jelek nilainya karena aku". gak gitu sama sekali. sudah berkali-kali FL dan jenis tugas kelompok lainnya dari jaman dulu bukan hanya pas aku kuliah, ttp aja seperti itu berulang-ulang. aku pikir dulu orang jawa akan berbeda dgn orang sumbawa. tp aku salah. Sama saja, Indonesia. hmm miris. Negara sendiri sudah seperti itu dicap oleh warganya. Sampe-sampe aku sering ngomong sama diri sendiri "mungkin ini udah saatnya aku ke luar negeri" terus ketawa sendiri karena berkhayal wkwkw. soalnya disana katanya apa2 disiplin. apa2 tepat waktu. aku pengen lingukunganku seprti itu. bukan hanya aku sendiri.

Hal ini juga yg terjadi waktu kkn. ya sejenis. bukan anak FK aja yg gitu, bahkan anak luar FK lebih gak asoy lagi. 1:9 lho. Gimana aku gak males bgt tiap pagi bagun dan harus mengulang hari bareng mereka yg sama sekali gak sejalan. Sendiri. 

Budaya ketimuran dan keislamannya Indonesia itu udah bergeser sekali sekarang. Ah, kamu gak ngerti deh maksudku gimana. Aku emang cewek kuno bgt. Tipe cewek tradisional. Betapa penting "manner" itu bagiku. Oke, aku gak sempurna. Tapi aku berusaha sekali untuk sopan, menghargai, berusaha menyenangkan orang lain, jujur, ikuti aturan dan norma yang ada. Aku seberusaha mungkin gak keluar sampe malam-malam bgt karena aku cewek. Aku berusaha menyambung silaturrahmi dgn cara menghubungi teman2ku yg udah jauh walaupun kadang mereka gak tanggapi dan gak pernah merasa perlu untuk terus berhubungan. Bukan seperti itu kan yg diajarkan kakek nenek kita? Bukan seperti itu kan Islam mengajari kita?

Dulu indonesia kan katanya terkenal di dunia karena ramah dan sopan. aku rasa sekarang gak. biasa saja.

Ada kata mutiara yg bilang: Tetaplah kamu berbuat baik dan berperilaku baik walaupun orang lain tidak berbuat baik kepadamu. karena memang sudah tugas kamu untuk terus jadi baik dan karena bukan perilaku orang lain yg menentukan   kamu harus baik atau tidak. Aggh. Ya bagaimana kalo semua orang telat ketika dibilang setengah 7 dan semua berpikir pada telat sementara aku sendiri ttp berperilaku baik dgn datang jam stngh 7? Ya malas bgt. aku jg bisa lakuin banyak hal dgn 30 menit yg mungkin mereka gunakan untuk tidur itu.

Aku jadi benar-benar tidak tergantung pada kelompok ataupun orang lain. aku selalu berusaha sendiri. Berusaha lebih keras sendiri. Ketika suatu nilai itu ditentukan dari nilai kelompok+ujian individu maka aku akan berusaha di ujiannya itu. Masalah nanti kelompok nilainya bagus ya Alhamdulillah, kalo gak ya yasudah. Aku juga bukan tipe orang yg berorientasi pada nilai.

I mean, mereka nuntut banyak sekali, mereka tunjuk jari ke orang yg salah tanpa mereka sadar bahwa merekapun salah, mereka menjudge orang lain seakan-akan mereka paling benar. ah kamu tidak tau saja apa isi pembicaraan mereka.

kalo kata di film You Are The Apple of My Eye " Yang aku pandang rendah bukanlah orang yg nilainya jelek tapi yang aku pandang rendah adalah orang dirinya sendiri tdk giat belajar tetapi memandang rendah orang yg giat belajar". Nah mewakili sekali perasaanku. Bukan masalah belajarnya aja, tp juga orang yg memandang rendah dan kakunya orang yg sebenarnya benar ! padahal justru dia yg salah hanya karena mayoritas dan dia anggap dirinya yg normal dan aku yg anomali. Ugh judging people.

Liat deh entar ada aja cara Allah menunjukkan mana yg benar. Semoga Allah menunjukkannya melalui aku atau bisa juga orang lain, kesempatan lain dan situasi yg lain. 

Semoga orang-orang seperti kamu yg baca tulisan ini (padahal gak mungkin jg ada yg baca) dan merasa sama  dgnku tetaplah bertahan pada kebenaran. Tetaplah kuat pada prinsip. Kamu gak sendiri. Biar Allah yang Melihat isi hati kita

Rabu, 05 Juli 2017

Aktualisasi Diri lewat Medsos

Let me tell you my prespective. Oke, ini cuma sekedar berdasarkan sudut pandangku belaka. Setiap orang punya pendapat, pemahaman, pemikiran ataupun prinsipnya masing-masing. Pendapatku ini hanya suara minor di tengah hiruk pikuk suara mayor.

Kemarin malam aku baru menonton film The Circle yang dimainkan oleh Emma Watson. Gak perlu aku jelaskan tentang filmnya yaaa, intinya ada satu scene menarik yang seakan menggambarkan orang-orang jaman sekarang. Si Emma ini adalah sukarela pertama dalam suatu perusahaan besar teknologi yang mau kesehariannya itu jadi transparan alias berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-harinya, semuanya, kecuali tidur dan dikamar mandi, itu bisa dilihat oleh orang diseluruh dunia kemudian dikomentarin.  Satu scene yg bikin aku langsung tersenyum adalah ketika baru bangun pagi si Emma langsung memamerkan dirinya yang baru bangun dan menjelaskan ini itu. Sama seperti yang terjadi saat ini, Vlog dan sejenisnya. Di vlog, snapchat atau instastories banyak sekali orang yang menceritakan dia sekarang lagi dimana, sedang apa, lagi makan makanan enak apa, lagi nonton apa, lagi ngantri sesuatu dan sejenisnya. Sampe hal-hal sepele dipamerin, diceritain, di masukin instastories..

No, I mean just.... gimana ya. Rasanya aktualisasi diri sudah sgt bergeser ke hal-hal seperti ini sekarang. Dulu sebelum ada medsos, kita hidup fine2 aja, gak merasa perlu dunia tau apa yg kita lakuin, kita bisa hepi sendirian, atau hepi bareng2 tanpa perlu dunia tau. Gimana ya, rasanya definisi bahagia itu lebih sederhana dulu daripada sekarang (dalam banyak segi). Okelah, klo ada foto/video yg rasanya penting banget, memorable bgt, kita aplot di instagram seperti biasanya. ini dengan adanya instastories, hal2 "kurang penting" pun sekrang di aplot. I dont know, aneh aja gitu aku ngelihatnya. kayak bertanya :pengen diliat siapa to? hahaha.yaaah, aku gak tau sih, bisa jadi aku suatu saat menjadi bagian dari mereka, org2 yang suka aplot instastories tapi setidaknya tidak untuk saat ini.

Suatu fenomena lah. Gara2 media sosial juga ini orang pada megang hp mulu. Okelah, aku juga main hp, main medsos tp gak melulu pegang hp. Okelah juga, aku juga bakal gak nyaman kalo hp ktinggalan, tp gak berarti juga klo aku lagi makan atau ngobrol dengan orang lain aku bakal terus pegang hp. Bagaimana coba perasaanmu ketika kamu hanya berdua terus temanmu sibuk dengan hp nya terus ketika ditanya sesuatu dia gak denger karena terlalu fokus sama hp atau dia masih denger dan masih jawab tapi mata dan wajah dia gak ngaliat ke kamu? Helloooh. Apa media sosial itu lebih penting daripada aku yang nyata di depan kamu?

Kadang juga misal makan rame-rame. Eeeh masing-masing pegang HP. betelah! Kadang aku komentarin, tp kadang krn jengkel aku akhirnya ikutan pegang hp juga sampe akhirnya ada yg sadar kalo betapa kita sibuk masing-masing. Toh di hp juga yg di liat cuma foto2, status orang, meme. Emang gak bisa nanti2 apa? Okelah klo chat penting, tp kan gak selalu juga. Terus aku juga kurang suka kalo saat ngumpul bareng yg dibahas adalah postingan (foto kek, status kek) dari hp mereka sambil nunjukin hp nya. Ujung2nya pasti balik lagi main hp sendiri. gak bisa apa bahas yg lain tanpa nyentuh hp.

Aku mmg sepertinya bukan wanita modern. Di banyak kasus, aku sering merasa betapa kuno dan tradisionalnya aku dan betapa sedikit yang seperti diriku ini wkkwkw.

Entah deh di masa akan datang nanti media sosial jenis bagaimana lagi yg akan muncul. Apalagi cobayg akan dipamerin, entahlah. Sampe kadang aku berimajinasi ingin buat film gimana klo seandainya di dunia ini somehow internet dan medsos gak ada lagi, hilang. Pasti orang2 pada panik luar biasa dan merasa nelongso.

#Reminderuntukdirisendirijuga


Kamis, 02 Februari 2017

Berat Badan

Kadang aku heran deh kenapa cewek-cewek kebanyakan sering marah banget kalo disinggung masalah BERAT BADAN. why? why? Aku pernah tuh bilang ke seorang teman secara jujur dan gelap-gelapan(bosan terang-terangan mulu), "kamu kok gendutan sih sekarang?" Dia langsung gak bisa tidur semalaman mikirin 1 kalimat gitu doang. Terus cewek-cewek kalo dibilang "emm kamu kurusan ya sekarang" senangnya minta ampun sampe mungkin juga gak bisa tidur..

Ya aku sebenarnya juga kecewa dan sedih sih kalo dibilang gendutan. Saya jadi makin gak ideal wkwk. secara tinggi aja pas-pasan eeh mau pake gendut segala. ya tapi gak sedih sampe gak tidur juga, gak sampe marah-marah juga. Temanku malah sering banget bilang "Ya ampun tanganmu gemuk amat, Mal". Aku jawab aja sante "Iya keturunan". ya emang menurut umiku kalo lengan atas kamu besar itu karena umi punya juga besar. Ya walaupun masih dipertanyakan sih ya kebenarannya menurut EBM (Evidence Based Medicine).

menurutku yang lebih parah itu saat orang bilang "kamu adiknya atau kakaknya?" saat bareng abangku, "kamu keliatan TUA, Mal". itu sangat menyakitkan broooo... emang mukaku tua dan serius banget apa. padahal kan diri ini humoris (menurut diriku sendiri bahkan tidak menurut keluargaku).

Nah terus ada juga kejadian lain yang lebih menyakitkan seperti "Makanannya gak enak. Mending aku dibuatin yang biasa aja daripada yang kayak gini". Ihh parah banget. Dulu aku gak ngerti kenapa cewek atau ibu-ibu gampang banget tersinggung masalah masakan. Tapi sekarang aku ngerti ya bukan karena sekarang aku bisa masak sih. belum kok belum bisa. tapi doakan segera bisa ya. Tapi ya karena aku mulai semakin pekalah. Masak itu capek. Butuh tenaga dan pikiran. Seni jumlah bumbu, takaran dsb itu mana pernah dimengerti pria. Setelah berlelah-lelah masak, mondar mandir sana sini, eh dibilang kurang manis lah, kurang asem lah. That's hurting broo. Emang gampang apa buatnya? Pantes aja Si Ibunya Ran di komik Conan ninggalin Ayahnya Ran gara-gara masakannya dibilang gak enak (ya walopun bukan cuma itu sih kali ya masalahnya ).

Ya pokoknya jadi cewek jangan sensitifan lah (ngomong ke diri sendiri). Dibawa sante aja jangan dibawa hati.

NB: Ini tulisan edisi gaje gak jelas padahal harus segera input judul skripsi. ya supaya menuh2in blog lah ya

Minggu, 01 Mei 2016

Kaku atau Gaul?

Di sela-sela diri yang lagi persiapan ujian ada sedikit kejadian yang menggelitik pikiran dan mengundang tangan untuk menulis (mengetik sih lebih tepatnya).

Hanya....
Betapa zaman udah merubah banyak hal terutama disini berkaitan dengan nilai-nilai, adab, dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya jaman dulu merokok bagi remaja itu tabu dan kalo pun menggunakannya pasti sembunyi-sembunyi, sekarang kalo gak merokok, gak gaul. Pacaran dulu juga tabu, kalo pun pacaran pasti sembunyi-sembunyi dan gak ada istilah pegang-pegangan. Kalo sekarang, pacaran dipamerin, bukan cuma pegang-pegangan bahkan pelukan, ciuman dan lebih dari itu. Yang gak pacaran dianggap gak laku, pemilih, kaku dan gak menikmati hidup. Hahaha. Jujur saja, beberapa teman waktu aku SMP dulu (bayangkan SMP masih bocah gitu) bilang ke aku tentang kenapa sih aku gak pacaran, nikmaktilah hidup jangan belajar terus dan seterusnya dan seterusnya. Aku hanya senyum. Aku bukan penetang pacaran sebenarnya. Hanya saja prinsip orang beda-beda, aku hanya merasa belum saatnya.

Oke itu hal-hal yang sering disoroti di masyarakat, padahal banyak selain itu yang juga berubah karena zaman. Yang aku soroti disini terutama masalah tepat waktu, disiplin, sopan dan mematuhi aturan. Aku, dibilang kaku dengan orang-orang. Dibilang gak sante. Terlalu cemasan, terlalu khawatiran, gak stay calm. Mereka bilang aku gitu  karena setiap aku melanggar tata tertib yang walaupun sepele, aku udah sedikit heboh. Mereka bilang gitu, karena aku selalu datang tepat waktu. Mereka bilang gitu, karena aku menegur mereka yang selalu main hp di depan Kapuskes,Dosen,Instruktur yang sedang menjelaskan. Mereka bilang gitu karena aku mencoba meluruskan hal-hal yang sebenarnya salah namun terlihat sepele di mata mereka.

Aku dibilang kaku karena aku disiplin, berusaha sopan, taat aturan..... Smentara orang-orang yang hobi telat, gak sopan, dengan gampangnya melanggar aturan dianggap normal-normal aja dan asik untuk diajak berteman. Dan orang tipeku tidak seru diajak berteman.
Padahal bukan dengan aku begitu artinya aku gak bisa bercanda, lucu-lucuan, digodain, dijahilin. Hanya saja ada tempatnya.

beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan 2  teman kosan lama. Mereka sedang membicarakan kelakuan teman mereka yang membuang tulang atau kotoran makanannya di piringnya teman aku itu. Okelah memang temanku itu udah selesai makan, tapi temanku menganggap itu tetap gak sopan dan menjijikan. Aku setuju. Menurutku kalo pun dia mau membuang kotoran makan ke piring orang lain seharusnya izin terlebih dahulu walopun memang orang tersbut sudah selesai makan.

Kita kemudian membicarakan hal-hal sejenis yang berkaitan dengan adab makan. Misalnya memegang sendok sayur dengan tangan yang udah kotor/berminyak karena sudah dipake makan, menurut temanku sebaiknya kalo kondisi seperti itu harus menggunakan tangan kiri karena itu sendok umum yang juga digunakan orang lain. Kemudian tentang cara makan bareng dengan semua tangan nyosor di satu bungkusan makanan gabung antara cewek cowok itu adalah menjijikan. dan banyak hal-hal lain yang sepele. kemudian temanku bertanya, "gimana ya pandangan mereka ke kita? pasti aneh menurut mereka? Padahal kan yang seperti itu yang bener"

Ya, hal sepele yang sebenarnya gak sepele (apasih hahaha). Adab. Adab dalam makan. Semua ada Adabnya. Ya, ketika kejadian makanan yang diceritakan temanku terjadi, pasti kita dibilang gak asik oleh orang lain, lebay, kaku, kurang jauh mainnya, kurang banyak temannya, dan sejenisnya. Padahal itu yang benar.

Memang sekarang jaman berubah dan sekaligus merubah adab dan nilai-nilai yang sebenarnya bagus. Oke kejadian itu gak selalu terjadi misal kedisiplinan, kejujuran, sperti kalo di Barat sana rata-rata orang pada profesional  tapi sayangnya rata-rata di Indonesia yang aku lihat dalah kebalikannya.  Sayang sebenarnya...

Semoga orang yang sudah benar tetap pada jalan kebenarannya walaupun banyak orang disekitarnya yang salah. Semoga orang yang sudah benar bisa mempengaruhi orang lain dengan kebaikan dan kebenarannya..


Btw, aku terlihat serius banget ya?? Gak Kok. tergantung tempatnya. hahahahha

Prasangka

  “ Aku sesuai prasangka hamba-Ku  pada-Ku dan  Aku bersamanya  apabila ia  memohon  kepada-Ku"  (HR.Muslim) Sedari kecil, sejak menemu...